BahanKain.id
BahanKain.id

Fenomena “2026 is The New 2016,” Kenapa Gaya Satu Dekade Lalu Tiba-tiba Muncul Lagi?

BahanKain
Fenomena “2026 is The New 2016,” Kenapa Gaya Satu Dekade Lalu Tiba-tiba Muncul Lagi?

Pernah merasa foto-foto lama di galeri tiba-tiba terlihat lebih menarik daripada konten yang memenuhi media sosial hari ini? Kalau iya, kamu tidak sendirian. Sebab, tahun 2026 ini muncul satu fenomena cukup unik dimana banyak orang seolah kembali ke tahun 2016 

Ini terjadi sejak akhir 2025, dimana linimasa media sosial dibanjiri konten bernuansa 2016. Mulai dari gaya berpakaian, referensi musik, sampai meme yang dulu wara-wiri di internet.  Fenomena ini kemudian dinamai "2026 is the new 2016". Seperti apa faktanya? Simak ulasan berikut ini, yuk!

Apa Itu Fenomena "2026 is The New 2016"?

Istilah "2026 is The New 2016" merujuk pada gelombang konten di media sosial yang membandingkan atau bahkan meniru ulang suasana tahun 2016. Bukan cuma soal outfit, fenomena ini juga menyeret balik ingatan kolektif soal budaya pop saat itu: demam Pokémon Go, viralnya Mannequin Challenge, sampai musik EDM ala The Chainsmokers yang dulu diputar di mana-mana.

Uniknya, tren ini tidak lahir dari satu brand atau selebriti tertentu. Melainkan dari kebiasaan pengguna internet yang mulai membagikan potret nostalgia, lalu diikuti banyak orang sampai jadi gerakan bersama. Persis seperti cara tren fashion viral lain lahir di TikTok maupun Instagram belakangan ini.

Item Fashion 2016 yang Kembali Wara-wiri


Fenomena kembali ke era 2016 mulai ramai dibicarakan sekitar awal 2026. Dan yang bikin heboh, bukan cuma warganet biasa, melainkan sejumlah selebriti dunia yang juga membagikan potret gaya 2016 versi mereka di media sosial. Berikut beberapa item yang paling sering disebut sebagai "wajah" dari kebangkitan gaya ini:

·         Skinny jeans. Ini item yang paling banyak jadi bahan obrolan. Setelah bertahun-tahun didominasi celana baggy dan wide leg, potongan ketat ini pelan-pelan naik daun lagi — meski versi 2026 cenderung dibuat sedikit lebih longgar dan nyaman dibanding versi aslinya yang terkenal ketat.

·         Ripped jeans dan denim miniskirt. Selain skinny jeans, denim sobek dan rok mini berbahan denim juga disebut-sebut bakal jadi salah satu simbol kuat gaya 2016 yang kembali digemari sepanjang tahun ini.

·         Bomber jacket. Jaket bomber, yang dulu jadi item wajib hampir semua orang di 2016, kini muncul lagi meski sering tampil dalam versi bahan yang lebih premium seperti suede atau kulit.

·         Tracksuit dan athleisure. Setelan olahraga yang dulu jadi tren besar 2016 kembali ramai dipakai, baik dalam bentuk jogger tiga garis maupun setelan jersey yang lebih rapi.

·         Slip dress dan choker. Gaya feminin ala pesta 2016 — dress tipis berbahan satin dipadu choker kalung — juga kembali muncul di berbagai unggahan bernuansa nostalgia.

·         Wedge sneakers. Sepatu bersol wedge yang identik dengan era ini diprediksi tetap jadi favorit, terutama di kalangan Gen Z dan Gen Alpha yang justru baru pertama kali mencobanya.

Visualnya memang tak sama persis. Tapi, beberapa stylist internasional menilai bahwa gaya 2016 di 2026 ini lebih terasa sebagai reinterpretasi. Proporsi dan cara padu padannya disesuaikan agar tetap terasa relevan. Skinny jeans misalnya, kini lebih sering dipadukan dengan atasan yang longgar, bukan crop top ketat seperti dulu.

Kebangkitan gaya-gaya ini juga berjalan beriringan dengan tren lain yang kembali booming di 2026, seperti polkadot dan gaya preppy. Keduanya sama-sama membawa nuansa nostalgia tapi dengan sentuhan yang lebih modern.

Kenapa Tren Lama Selalu Balik Lagi?

Di dunia fashion, ada semacam pola tak tertulis yang sering disebut "aturan 20 tahun". Dimana gaya dari dua dekade lalu biasanya bangkit lagi karena generasi baru menemukannya sebagai sesuatu yang segar, sementara generasi yang mengalaminya langsung merasakan nostalgia. Tapi fenomena "2026 is the new 2016" ini agak berbeda: siklusnya jauh lebih pendek, cuma satu dekade.

Ini kemungkinan besar dipengaruhi kecepatan algoritma media sosial. Konten lama gampang muncul lagi lewat fitur "on this day", akun-akun nostalgia, atau sekadar audio TikTok yang tiba-tiba viral ulang. Begitu satu kreator memulai, ribuan orang lain ikut membuat versi mereka sendiri. Dan dari sinilah siklus nostalgia pun bergerak begitu cepat.

Faktor lain yang tak kalah penting yaitu, banyak pengguna media sosial saat ini adalah mereka yang masih anak-anak atau remaja di 2016. Buat mereka, gaya itu bukan lagi masa lalu yang jauh, tapi kenangan masa kecil yang terasa hangat untuk dikunjungi ulang.

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait