Industri Padat Karya Waspadai Tarif Baru AS, Tekstil dan Alas Kaki Dinilai Paling Rentan

Industri padat karya Indonesia, khususnya sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), pakaian jadi, serta alas kaki, tengah bersiap menghadapi babak baru kebijakan tarif impor Amerika Serikat. Masa berlaku tarif global sementara sebesar 10 persen yang telah berjalan selama 150 hari resmi berakhir pada 24 Juli 2026, dan pelaku usaha kini menanti struktur tarif baru yang akan diberlakukan Washington terhadap puluhan mitra dagangnya, termasuk Indonesia.
Kenapa Tekstil dan Alas Kaki Jadi Sektor Paling Rentan

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani, mengungkap bahwa sektor-sektor dengan ketergantungan tinggi terhadap pasar Amerika Serikat akan paling merasakan dampak dari perubahan kebijakan tersebut. Industri tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki masuk kategori tersebut karena selama ini menjadikan AS sebagai salah satu tujuan ekspor utama, sementara sifatnya yang padat karya membuat setiap penurunan permintaan langsung berimbas pada utilisasi pabrik dan penyerapan tenaga kerja.
Data struktur ekspor nonmigas Indonesia ke AS pada 2025 turut memperkuat gambaran ini. Barang rajutan, alas kaki, dan pakaian jadi bukan rajutan termasuk dalam kelompok komoditas ekspor terbesar Indonesia ke Negeri Paman Sam, sehingga perubahan tarif sedikit saja berpotensi mengubah peta kompetisi dengan negara pemasok lain seperti Vietnam dan Bangladesh.
Proyeksi Dampak: Ekspor dan Investasi Berpotensi Tertekan

Sejumlah lembaga riset mulai memetakan skenario dampak dari kebijakan tarif baru ini. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperingatkan bahwa kenaikan tarif yang diperkirakan mencapai 18 persen berisiko memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri padat karya, mulai dari tekstil, alas kaki, hingga furnitur. Dalam skenario yang lebih rinci, Indef bahkan memproyeksikan ekspor tekstil dan alas kaki bisa turun hingga 4,8 persen, dengan investasi di sektor ini berpotensi menyusut sekitar 2 persen.
Meski begitu, dampaknya diperkirakan tidak akan merata ke seluruh komoditas. Sejumlah produk disebut masih dalam tahap pembahasan untuk memperoleh product exclusions atau pengecualian tarif, sebagai bagian dari negosiasi dagang yang masih berlangsung antara Indonesia dan AS. Dunia usaha pun masih menunggu hasil akhir kebijakan ini sebelum bisa mengukur dampaknya secara lebih pasti.
Langkah yang Disiapkan Pengusaha dan Pemerintah

Di tengah ketidakpastian ini, kalangan pengusaha mendorong pemerintah bergerak di dua jalur sekaligus: memperkuat diplomasi dagang untuk mengamankan pengecualian tarif, sekaligus memperbaiki fondasi daya saing industri dalam negeri. Penguatan sistem ketelusuran (traceability) serta kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan dan lingkungan disebut semakin penting, mengingat instrumen nontarif kini juga makin sering digunakan dalam kebijakan dagang AS.
Apindo turut mengingatkan bahwa perusahaan-perusahaan global saat ini tidak hanya mempertimbangkan besaran tarif semata dalam memilih mitra produksi, tetapi juga keandalan rantai pasok, kepastian pasokan bahan baku, kualitas produk, dan kemampuan memenuhi standar pasar internasional.
Apa Artinya Bagi Produsen Garmen dan Konveksi di Dalam Negeri
Bagi pelaku industri garmen dan konveksi, situasi ini menjadi pengingat bahwa daya saing tidak lagi cukup ditopang oleh tarif yang kompetitif saja. Ketika ongkos ekspor menjadi tidak pasti, efisiensi di sisi produksi—termasuk kestabilan pasokan dan mutu bahan baku—justru menjadi salah satu variabel yang bisa dikendalikan sepenuhnya oleh produsen.
Di sinilah pentingnya bermitra dengan supplier kain yang transparan dan konsisten menjaga kualitas. Pasokan bahan baku yang stabil membantu produsen menjaga standar produk tetap memenuhi ekspektasi buyer internasional, sekaligus meminimalkan risiko keterlambatan produksi akibat masalah rantai pasok. bahankain.id hadir sebagai mitra fabric supplier langsung yang memahami kebutuhan tersebut, menyediakan berbagai jenis kain berkualitas dengan harga yang jelas dan pasokan yang dapat diandalkan bagi produsen garmen, konveksi, dan brand pakaian yang ingin tetap kompetitif di tengah dinamika pasar global.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!



