BahanKain.id
BahanKain.id

Mengapa Babydoll Dress Selalu Kontroversial di Setiap Generasi?

BahanKain
Mengapa Babydoll Dress Selalu Kontroversial di Setiap Generasi?

Cover sourse: www.teenvogue.com


Di dunia fashion, ada beberapa item yang tampaknya tidak pernah benar-benar hilang. Mereka mungkin tenggelam selama beberapa tahun, lalu tiba-tiba muncul kembali dan menjadi tren besar. Salah satunya adalah babydoll dress.

Belakangan, popularitas babydoll dress kembali meningkat berkat sejumlah selebritas muda yang sering mengenakannya. Namun seperti yang sudah berkali-kali terjadi dalam sejarah fashion, kebangkitannya juga diiringi kontroversi.

Sebagian orang menganggap babydoll dress sebagai simbol feminitas yang manis dan bebas. Sebagian lainnya melihatnya sebagai desain yang problematik karena dianggap mengaburkan batas antara citra perempuan dewasa dan estetika yang identik dengan masa kanak-kanak.

Pertanyaannya, kenapa sebuah gaun sederhana bisa memicu perdebatan selama puluhan tahun?

 

Apa Itu Babydoll Dress?


Sumber: forloveandlemons.com


Babydoll dress adalah gaun dengan siluet longgar yang biasanya memiliki potongan pinggang tinggi tepat di bawah dada atau yang dikenal sebagai empire waist. Bagian rok dibuat mengembang dan jatuh bebas sehingga menciptakan kesan ringan dan santai.

Ciri khas lainnya sering berupa:

·     Rok pendek atau di atas lutut

·     Detail renda atau ruffle

·     Pita dekoratif

·     Puff sleeves

·     Warna-warna lembut atau motif floral

Secara visual, babydoll dress memberikan kesan muda, ringan, dan feminin. Karena bentuknya yang longgar, model ini juga sering dianggap nyaman dipakai dalam berbagai kesempatan. Namun yang menarik, asal-usulnya ternyata tidak dimulai sebagai pakaian jalanan.

 

Awalnya Berasal dari Pakaian Tidur


Sumber: nicolerobin822.wixsite.com


Istilah "babydoll" mulai populer pada pertengahan abad ke-20 dan awalnya merujuk pada jenis pakaian tidur wanita yang ringan dan longgar. Desain tersebut dibuat untuk memberikan kenyamanan sekaligus tampilan yang dianggap lembut dan romantis. Dari sinilah muncul asosiasi antara gaya babydoll dengan citra kepolosan, kelembutan, dan feminitas.

Seiring waktu, elemen-elemen desain tersebut mulai diadopsi ke dalam pakaian sehari-hari. Siluet yang awalnya hanya digunakan di kamar tidur perlahan berubah menjadi bagian dari dunia fashion yang lebih luas. Transformasi inilah yang kemudian menjadi salah satu sumber perdebatan hingga sekarang.

 

Kenapa Babydoll Dress Dianggap Kontroversial?

Inti kontroversinya sebenarnya terletak pada kombinasi simbol yang melekat pada gaun ini.

Di satu sisi, babydoll dress sering menggunakan elemen yang diasosiasikan dengan masa muda atau kepolosan, seperti pita, renda, warna pastel, dan siluet yang menyerupai pakaian boneka. Di sisi lain, banyak versi babydoll dress memiliki rok yang cukup pendek dan berasal dari desain yang berakar pada lingerie atau pakaian tidur.

Bagi sebagian kritikus, perpaduan dua unsur tersebut dianggap menciptakan pesan visual yang membingungkan. Mereka berpendapat bahwa estetika yang sangat "girly" ketika dikenakan oleh perempuan dewasa dapat mengarah pada proses infantilisasi atau penggambaran perempuan dewasa sebagai sosok yang terlalu kekanak-kanakan.

Namun tidak semua orang setuju dengan pandangan tersebut. Banyak pengamat fashion berargumen bahwa pakaian tidak otomatis memiliki makna tunggal. Menurut mereka, mengaitkan setiap elemen feminin dengan sesuatu yang problematik justru bisa menjadi bentuk pembatasan terhadap kebebasan berekspresi.

Karena itulah perdebatan mengenai babydoll dress sering kali tidak pernah benar-benar selesai.

 

Baca juga: Membongkar Dunia Lingerie Yang Penuh Pesona dan Lebih dari Sekadar Dalaman

 

Bukan Pertama Kalinya Menjadi Perdebatan


Sumber: www.bustle.com


Meskipun kontroversi ini terasa modern, sebenarnya perdebatan tentang babydoll dress sudah berlangsung selama beberapa dekade.

Setiap kali tren ini kembali muncul, diskusi yang hampir sama selalu ikut muncul. Hal ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata soal desain pakaian, melainkan tentang bagaimana masyarakat memandang feminitas, usia, dan identitas perempuan.

Fashion sering kali menjadi cermin dari nilai-nilai sosial pada masanya. Ketika nilai-nilai tersebut berubah, cara orang memandang pakaian juga ikut berubah.

 

Babydoll Dress Justru Punya Sejarah yang Cukup Rebel

Yang sering terlupakan adalah fakta bahwa babydoll dress tidak selalu identik dengan kepolosan.

Pada era 1960-an, siluet pendek dan longgar seperti ini menjadi bagian dari gelombang fashion muda yang menentang aturan berpakaian generasi sebelumnya. Saat itu, gaun pendek dianggap simbol kebebasan dan modernitas.

Babydoll dress menjadi bagian dari perubahan besar yang memberi ruang lebih luas bagi perempuan muda untuk menentukan gaya mereka sendiri. Dengan kata lain, gaun ini pernah dianggap cukup radikal pada zamannya.

 

Era 1990-an: Feminin Sekaligus Punk


Sumber: www.pinterest.com


Makna babydoll dress kembali berubah pada tahun 1990-an. Saat itu, sejumlah musisi alternatif dan figur dalam budaya grunge mengenakan babydoll dress dengan cara yang sangat berbeda dari citra manis tradisionalnya.

Salah satu contoh paling terkenal adalah gaya yang kemudian dikenal sebagai "kinderwhore", sebuah estetika yang memadukan babydoll dress, sepatu berat, makeup berantakan, dan sikap anti-kemapanan. Alih-alih tampil polos, babydoll dress justru digunakan sebagai simbol perlawanan terhadap ekspektasi sosial tentang bagaimana perempuan seharusnya berpakaian dan berperilaku.

Di sini terlihat bahwa makna sebuah pakaian bisa berubah tergantung konteks budaya dan siapa yang mengenakannya.

 

Kenapa Ramai Lagi Sekarang?

Sumber: deadline.com


Kebangkitan terbaru babydoll dress tidak lepas dari pengaruh generasi muda dan media sosial. Beberapa penyanyi dan selebritas muda kembali mengadopsi siluet ini sebagai bagian dari estetika yang terinspirasi era 1990-an dan awal 2000-an. Popularitasnya meningkat karena dianggap nyaman, mudah dipadukan, dan memiliki nuansa nostalgia yang kuat.

Namun bersamaan dengan itu, kritik lama kembali muncul.

Sebagian orang mempertanyakan apakah gaya tersebut terlalu "childlike" untuk perempuan dewasa. Sebaliknya, banyak pihak berpendapat bahwa kritik semacam itu justru menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk mengontrol bagaimana perempuan menampilkan feminitas mereka.

Perdebatan pun kembali berulang seperti yang sudah terjadi berkali-kali sebelumnya.

 

Jadi, Apa yang Sebenarnya Diperdebatkan?

Menariknya, perdebatan mengenai babydoll dress sebenarnya jarang benar-benar tentang gaunnya. Namun yang diperdebatkan adalah makna di baliknya.

Apakah feminitas harus selalu dianggap lemah?

Apakah perempuan dewasa boleh mengenakan pakaian yang terlihat manis tanpa dianggap kekanak-kanakan?

Apakah publik terlalu cepat memberikan makna tertentu pada cara seseorang berpakaian?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat babydoll dress terus menjadi topik diskusi setiap kali tren tersebut kembali muncul.

 

Kesimpulan

Babydoll dress mungkin terlihat seperti gaun sederhana dengan siluet longgar dan detail feminin. Namun sejarahnya menunjukkan bahwa pakaian ini memiliki perjalanan yang jauh lebih kompleks.

Ia pernah menjadi pakaian tidur, simbol pemberontakan generasi muda, bagian dari budaya grunge, hingga tren fashion modern yang kembali digemari.

Kontroversi yang selalu mengikutinya menunjukkan bahwa fashion bukan hanya soal pakaian. Fashion juga berbicara tentang budaya, identitas, persepsi sosial, dan cara masyarakat memandang perempuan. Mungkin itulah alasan mengapa babydoll dress selalu berhasil memicu perdebatan, apa pun generasinya.

 

Baca juga: Evolusi Baju Tidur: Dari Simbol Aristokrat hingga Loungewear Mewah Modern


Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait