Dulu Cuma Dipakai Bangsawan, Sekarang Jadi Fashion Mahal: Sejarah Mengejutkan Baju Tidur dan Loungewear

Perjalanan baju tidur ternyata panjang banget. Dari simbol aristokrat Eropa, pengaruh kolonialisme, glamor Hollywood, sampai akhirnya berubah menjadi identitas quiet luxury dan soft life generasi sekarang. Menariknya lagi, evolusi ini bukan cuma soal pakaian, tetapi juga tentang status sosial, privasi, kenyamanan, dan cara manusia memandang hidup santai sebagai bentuk kemewahan.
Saat Tidur Belum Jadi Aktivitas Privat
Di masa abad pertengahan Eropa, tidur belum dianggap sebagai aktivitas pribadi seperti sekarang. Banyak keluarga tidur bersama dalam satu ruangan, bahkan satu tempat tidur sering dipakai lebih dari satu orang. Konsep kamar tidur eksklusif belum benar-benar berkembang, termasuk di kalangan bangsawan. Pelayan masih bebas keluar masuk kamar, dan kehidupan domestik berlangsung jauh lebih terbuka dibanding era modern.
Karena itu, pakaian tidur pada masa tersebut lebih berfungsi sebagai kebutuhan praktis daripada bagian dari fashion. Orang biasanya tidur menggunakan linen longgar, tunik sederhana, atau pakaian dalam dasar yang nyaman dipakai semalaman. Tujuannya bukan untuk terlihat menarik, melainkan menjaga tubuh tetap hangat dan melindungi kasur mahal dari kotoran tubuh serta minyak kulit. Pada titik ini, baju tidur belum memiliki nilai estetika atau simbol status seperti sekarang.
Bangsawan Eropa Mengubah Tidur Menjadi Ritual Mewah
Sumber: agreateuropetripplanner.blogspot.com
Perubahan mulai terlihat pada abad
ke-17 dan ke-18 ketika kalangan aristokrat Eropa mulai memiliki ruang privat
yang lebih eksklusif. Kamar tidur perlahan berubah fungsi, bukan sekadar tempat
beristirahat, tetapi juga bagian dari simbol status sosial. Kaum bangsawan
mulai menciptakan budaya malam yang elegan, lengkap dengan ritual pribadi
seperti memakai parfum, membaca sebelum tidur, hingga mengenakan pakaian khusus
dari kain mahal.
Di masa inilah robe sutra, nightgown bordir, kain renda, dan jubah satin mulai populer di lingkungan elite. Memiliki pakaian khusus untuk tidur menjadi lambang kemewahan karena kain berkualitas tinggi saat itu sangat mahal dan sulit didapat. Hanya orang-orang tertentu yang mampu membeli pakaian yang bahkan tidak dipakai keluar rumah. Dan akhirnya, sleepwear berubah menjadi simbol leisure class — tanda bahwa seseorang memiliki waktu luang, kehidupan nyaman, dan kemewahan domestik.
Asal-Usul Kata “Pajama” Ternyata Dari Asia Selatan
Sumber: www.patpat.com
Banyak orang mengira piyama berasal
dari budaya Eropa, padahal akar katanya justru datang dari Asia Selatan,
khususnya India. Kata “pajama” berasal dari istilah Persia dan Hindi “pae jama”
yang secara harfiah berarti pakaian kaki atau celana longgar.
Pada abad ke-19, kolonialis Inggris yang tinggal di India mulai tertarik dengan pakaian longgar nyaman yang biasa dipakai masyarakat lokal. Model pakaian tersebut kemudian dibawa kembali ke Eropa dan perlahan diadaptasi menjadi fashion rumah kalangan elite.
Menariknya, pada awal kemunculannya di Barat, pajama justru diasosiasikan dengan maskulinitas dan gaya hidup pria kelas atas. Banyak laki-laki elite digambarkan memakai set piyama longgar sambil membaca koran pagi, merokok cerutu, atau menikmati waktu santai di rumah besar mereka. Dari sini, pajama mulai identik dengan citra intelektual, leisure, dan kemewahan domestik.
Hollywood Membuat Baju Tidur Terlihat Glamor
Sumber: ar.inspiredpencil.com
Masuk ke era 1920-an hingga
1950-an, industri perfilman mulai memberi pengaruh besar terhadap citra sleepwear modern. Film-film Hollywood
menampilkan gaun satin, slip dress, robe berbulu, dan kamar hotel mewah dengan
pencahayaan dramatis yang membuat pakaian tidur terlihat elegan sekaligus
sensual.
Pada masa ini, baju tidur mulai diposisikan bukan hanya sebagai pakaian privat, tetapi juga bagian dari fantasy glamour. Banyak aktris terkenal membentuk citra perempuan yang tetap terlihat anggun bahkan sebelum tidur. Sleepwear pun menjadi simbol kecantikan, feminitas, dan kemewahan yang terasa effortless.
Konsep ini perlahan mengubah budaya populer. Orang mulai melihat bahwa tampil elegan tidak hanya berlaku di ruang publik, tetapi juga di ruang personal.
Pandemi Mengubah Cara Dunia Melihat Baju Rumah
Sumber: wallpapers.com
Perubahan terbesar dalam sejarah loungewear modern mungkin terjadi saat
pandemi global tahun 2020. Ketika jutaan orang mulai bekerja dari rumah,
menjalani meeting online, dan
menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang domestik, batas antara pakaian
rumah dan fashion mulai menghilang.
Orang tidak lagi ingin memakai pakaian formal sepanjang hari, tetapi juga tidak ingin terlihat terlalu berantakan. Akhirnya muncul tren matching lounge set, knitwear minimalis, oversized cashmere, dan monochrome homewear yang terlihat nyaman sekaligus estetik.
Fashion rumah berubah menjadi identitas visual baru. Bukan cuma tentang kenyamanan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang membangun citra hidup tenang, rapi, dan effortless di media sosial. Dari sinilah aesthetic seperti clean girl, slow living, dan quiet luxury mulai semakin kuat.
Kenapa Loungewear Mahal Jadi Simbol Status Modern?
Sumber: www.oem-pajama.com
Di era sekarang, kemewahan tidak
selalu tampil lewat logo besar atau pakaian super glamor. Justru banyak simbol
status modern terlihat jauh lebih tenang dan subtil. Punya waktu santai,
menikmati slow morning, tinggal di
rumah estetik, menjaga tubuh tetap sehat, dan memakai pakaian rumah berkualitas
tinggi kini dianggap sebagai bentuk privilege
baru.
Karena itu, aesthetic seperti quiet luxury, old money, wellness lifestyle, dan soft life sangat dekat dengan dunia loungewear premium. Yang dijual bukan cuma pakaian, melainkan suasana hidup yang terlihat damai dan tidak terburu-buru. Dan di dunia modern yang serba cepat, ketenangan justru menjadi simbol kemewahan paling baru.
Media Sosial Ikut Mengubah Makna “Nyaman”
Sumber: printfresh.com
Perkembangan media sosial ikut
memperbesar tren ini. Di TikTok, Instagram, dan Pinterest, kehidupan domestik sekarang menjadi bagian dari konten
visual sehari-hari. Morning routine, skincare sebelum tidur, journaling, membuat matcha, membaca
buku, hingga aesthetic kamar tidur
semuanya dipertontonkan sebagai lifestyle.
Akibatnya, pakaian rumah ikut berubah menjadi bagian dari personal branding. Banyak orang membeli piyama satin, linen set, robe netral, dan sleepwear premium bukan hanya demi kenyamanan, tetapi juga demi membangun image tertentu di internet.
Fenomena ini sering disebut sebagai “performative comfort”, yaitu kenyamanan yang sekaligus dipertontonkan. Orang ingin terlihat santai, tetapi tetap estetik dan curated di depan kamera.
Dari Pakaian Tidur Menjadi Simbol Gaya Hidup
Kalau dilihat secara keseluruhan, evolusi baju tidur sebenarnya mencerminkan perubahan besar dalam budaya manusia. Dulu, kemewahan identik dengan pakaian formal rumit, struktur ketat, dan simbol kekuasaan yang mencolok. Sekarang, kemewahan justru hadir lewat kesederhanaan, kenyamanan, kualitas material, dan hidup yang terlihat santai.
Karena itu, loungewear modern bukan lagi sekadar pakaian rumah. Ia sudah berubah menjadi simbol wellness, self-care, leisure, dan status sosial modern. Dan mungkin itulah alasan kenapa pakaian paling nyaman yang dipakai di rumah sekarang justru menjadi salah satu kategori fashion paling mahal di dunia.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Artikel Terkait

Bukan Cuma Buat Pesta Kostum! Rahasia Tampil Glamor dan Edgy Pakai Feather Boa di Era Modern

Sejarah Revenge Dress, Gaun Ikonik Putri Diana yang Akan Kembali Dilelang

Seberapa Canggih Racing Suit MotoGP? Ini Bahan dan Teknologi di Balik Baju Rider
