BahanKain.id
BahanKain.id

The Death of “It Girl” — Ketika Ikon Fashion Tidak Lagi Tunggal

BahanKain
The Death of “It Girl” — Ketika Ikon Fashion Tidak Lagi Tunggal

Cover source: www.vanityfair.com


Pernah ada masa di mana dunia fashion terasa lebih terarah—bukan karena pilihannya sedikit, tapi karena referensinya jelas. Ada satu nama, satu wajah, satu gaya yang secara kolektif dianggap sebagai pusat perhatian. Sosok ini bukan hanya tampil menarik, tapi juga membentuk cara orang lain berpakaian, memilih, dan memahami gaya. Figur seperti Kate Moss atau Alexa Chung tidak sekadar populer; mereka menjadi semacam “bahasa bersama” dalam fashion—ikon yang menghubungkan selera individu dengan arus global.

Namun belakangan ini, struktur itu tidak lagi terasa utuh. Bukan karena tidak ada figur yang menarik, melainkan karena tidak ada lagi satu sosok yang mampu menyatukan perhatian secara luas. Dunia fashion tidak kehilangan gaya, tetapi kehilangan pusat gravitasi yang dulu membuat semuanya terasa sinkron.

 

Saat Taste Dibentuk dari Atas

Sebelum era digital mengambil alih, industri fashion beroperasi dalam sistem yang relatif tertutup dan hierarkis. Majalah, rumah mode besar, dan kurator budaya memiliki peran dominan dalam menentukan arah estetika. Figur seperti Anna Wintour bukan hanya editor, tetapi juga penentu legitimasi—seseorang yang secara tidak langsung memvalidasi siapa yang layak disebut relevan.

Dalam sistem ini, selera bergerak secara vertikal. Apa yang muncul di runway atau editorial akan perlahan meresap ke publik, menciptakan siklus yang lebih lambat namun terarah. “It Girl” muncul sebagai wajah dari proses tersebut—bukan kebetulan, melainkan hasil seleksi dan eksposur yang konsisten. Karena itu, ikon terasa solid dan bertahan lebih lama, bukan hanya karena popularitas, tetapi karena didukung oleh struktur yang menopangnya.

 

Era Algoritma: Ketika Semua Orang Bisa Jadi Ikon

Kehadiran platform seperti TikTok dan Instagram mengubah dinamika ini secara fundamental. Distribusi tidak lagi bergantung pada kurasi terbatas, melainkan pada algoritma yang terus bergerak dan bereaksi terhadap perilaku pengguna. Eksposur menjadi cepat, luas, dan sering kali tidak terduga.

Dalam konteks ini, popularitas tidak lagi membutuhkan legitimasi institusional. Seseorang bisa menjadi referensi hanya karena resonansi visual atau emosional yang kuat dalam waktu singkat. Akibatnya, konsep “It Girl” tidak hilang, tetapi terfragmentasi. Ia tidak lagi hadir sebagai satu figur dominan, melainkan tersebar dalam banyak individu yang relevan di komunitas masing-masing.

Ikon tidak lagi bersifat universal, melainkan kontekstual—berbeda untuk setiap timeline, algoritma, dan preferensi personal.

 

Dari Sosok ke Estetika

Perubahan ini juga menggeser cara orang membangun identitas dalam fashion. Jika sebelumnya fokus terletak pada individu sebagai sumber inspirasi, kini perhatian beralih pada estetika sebagai sistem visual yang bisa diadopsi siapa saja. Orang tidak lagi harus mengikuti satu figur untuk merasa “terhubung” dengan gaya tertentu.

Sebaliknya, mereka memilih elemen visual yang sesuai dengan preferensi pribadi—warna, siluet, mood, hingga referensi budaya—lalu merangkainya menjadi identitas yang lebih fleksibel. Clean girl, coquette, archive fashion, atau minimalist hanyalah beberapa contoh bagaimana estetika bekerja sebagai kategori yang lebih cair dibandingkan sosok manusia.

Akibatnya, hubungan antara fashion dan identitas menjadi lebih terbuka, tetapi juga lebih terpecah. Tidak ada lagi satu narasi dominan, melainkan banyak narasi kecil yang berjalan paralel tanpa harus bertemu.

 

Lebih Inklusif, Tapi Kurang Ikonik

Sisi positif dari perubahan ini cukup jelas. Akses menjadi lebih luas, representasi lebih beragam, dan standar tidak lagi dikendalikan oleh segelintir pihak. Lebih banyak orang bisa melihat dirinya terwakili dalam berbagai bentuk gaya, tanpa harus menyesuaikan diri dengan satu definisi tunggal tentang “ideal”.

Namun, inklusivitas ini datang dengan konsekuensi. Tanpa pusat yang menyatukan, fashion kehilangan figur yang benar-benar mampu menjadi titik referensi bersama. Tidak ada lagi momen kolektif di mana satu gaya mendominasi percakapan secara global dalam waktu yang cukup lama.

Segalanya menjadi lebih cepat berganti. Tren muncul, berkembang, lalu menghilang sebelum sempat benar-benar mengakar. Dalam kondisi seperti ini, ikon sulit terbentuk karena fondasi yang menopangnya terus bergerak.

 

Apakah “It Girl” Benar-Benar Mati?

Menyebutnya mati mungkin terlalu sederhana. Yang terjadi lebih tepat disebut sebagai perubahan bentuk. “It Girl” tidak lagi hadir sebagai simbol tunggal dengan pengaruh luas, tetapi sebagai konsep yang terdistribusi dalam banyak versi yang lebih kecil dan spesifik.

Ia hidup dalam komunitas, dalam algoritma, dalam lingkaran yang tidak selalu saling bersinggungan. Pengaruhnya tetap ada, tetapi tidak lagi bersifat menyeluruh. Setiap orang bisa memiliki “It Girl”-nya sendiri, tanpa harus berbagi referensi yang sama dengan orang lain.

Dengan kata lain, ikon tidak hilang—ia hanya kehilangan sifat universalnya.

 

Penutup: Ikon di Era yang Terfragmentasi

Di tengah lanskap yang semakin terfragmentasi, relevansi tidak lagi diukur dari seberapa luas seseorang dikenal, tetapi seberapa dalam ia terhubung dengan audiensnya. Fashion tidak lagi bergerak sebagai satu arus besar, melainkan sebagai kumpulan arus kecil yang saling berdampingan.

Mungkin, ini bukan tentang hilangnya ikon, melainkan tentang redefinisi makna ikon itu sendiri. Dari sesuatu yang dulu bersifat kolektif, menjadi sesuatu yang lebih personal.

Dan di era seperti ini, menjadi berpengaruh bukan berarti dilihat oleh semua orang—
melainkan dirasakan oleh orang yang tepat.


Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait