Male Gaze vs Female Gaze dalam Fashion. Siapa yang Sebenarnya “Dilihat” oleh Gaya Berpakaian?

Dalam beberapa tahun terakhir, diskusi tentang male gaze dan female gaze semakin sering muncul dalam pembahasan fashion. Banyak tren pakaian modern—dari sepatu chunky hingga rok micro—sering diperdebatkan: apakah pakaian itu dibuat untuk menarik perhatian pria, atau justru untuk ekspresi diri perempuan?
Konsep ini sebenarnya berasal dari teori film, tetapi kini menjadi alat analisis yang sangat berguna untuk memahami bagaimana pakaian dirancang, dipasarkan, dan dikenakan.
Asal Konsep Male Gaze
Istilah male gaze pertama kali diperkenalkan oleh teoretikus film Inggris, Laura Mulvey, dalam esainya tahun 1975 berjudul Visual Pleasure and Narrative Cinema.
Dalam esai tersebut, Mulvey menjelaskan bahwa dalam banyak film klasik, kamera sering mengambil sudut pandang yang membuat perempuan menjadi objek visual bagi penonton laki-laki heteroseksual.
Walaupun konsep ini berasal dari sinema, prinsipnya juga dapat diterapkan pada dunia fashion. Pakaian sering didesain atau dipresentasikan dengan cara yang membuat tubuh perempuan terlihat lebih menarik menurut standar estetika pria.
Male Gaze dalam Gaya Berpakaian
Dalam fashion, male gaze biasanya merujuk pada pakaian yang secara visual menonjolkan seksualitas tubuh perempuan. Ciri utamanya adalah siluet yang mempertegas bentuk tubuh.
Beberapa karakteristik yang sering muncul antara lain:
· Potongan pakaian yang ketat dan mengikuti bentuk tubuh
· Rok atau gaun yang sangat pendek
· Atasan dengan potongan rendah atau memperlihatkan kulit
· Sepatu hak tinggi yang memperpanjang garis kaki
· Material sensual seperti satin, latex, atau sheer fabric
Dalam konteks pemasaran fashion, pendekatan ini pernah sangat dominan, terutama dalam kampanye lingerie atau runway tertentu. Brand seperti Victoria's Secret terkenal dengan presentasi yang menekankan sensualitas tubuh perempuan melalui supermodel seperti Tyra Banks dan Heidi Klum.
Dalam kerangka male gaze, pakaian berfungsi sebagai cara untuk membuat tubuh perempuan lebih menarik bagi pandangan pria.
Female Gaze dalam Fashion
Sebaliknya, female gaze mencoba memposisikan perempuan bukan sebagai objek visual, tetapi sebagai subjek yang memiliki perspektif dan pengalaman sendiri. Dalam fashion, pendekatan ini biasanya terlihat pada pakaian yang dirancang dengan mempertimbangkan kenyamanan pemakai, ekspresi personal, atau estetika yang tidak selalu mengikuti standar “seksi” tradisional.
Pada pendekatan ini, pakaian tidak selalu dimaksudkan untuk terlihat “menggoda”. Sebaliknya, pakaian menjadi media untuk identitas, kreativitas, dan pengalaman pribadi.
Ciri gaya yang sering diasosiasikan dengan female gaze meliputi:
· Siluet oversized atau longgar
· Layering yang kompleks
· Desain yang eksperimental atau artistik
· Sepatu flat atau praktis
· Fokus pada detail, tekstur, dan karakter pakaian
Beberapa brand yang sering dikaitkan dengan pendekatan ini antara lain Comme des Garçons karya Rei Kawakubo, serta label minimalis seperti The Row yang didirikan oleh Mary-Kate Olsen dan Ashley Olsen.
Ketika Perempuan “Berpakaian untuk Perempuan Lain”
Fenomena menarik dalam fashion modern adalah munculnya gagasan bahwa banyak perempuan sebenarnya berpakaian untuk mengesankan perempuan lain, bukan pria. Hal ini sering terlihat pada tren fashion yang populer di komunitas perempuan tetapi justru dianggap membingungkan oleh pria, seperti sepatu chunky, tas dengan banyak aksesori, layering yang kompleks, atau siluet oversized.
Dalam konteks ini, fashion menjadi bentuk komunikasi sosial antar perempuan, bukan sekadar alat untuk menarik perhatian lawan jenis. Contohnya seperti brand Miu Miu yang sering bermain di wilayah ini dengan estetika yang quirky, intelektual, dan sedikit “tidak konvensional”.
Realitas Fashion: Tidak Selalu Hitam Putih
Walaupun konsep male gaze dan female gaze membantu kita memahami dinamika visual dalam fashion, kenyataannya sebagian besar pakaian berada di antara kedua spektrum tersebut. Seorang perempuan bisa mengenakan gaun seksi karena ia merasa percaya diri, ia menikmati estetika glamor, atau ia memang ingin menarik perhatian.
Begitu juga dengan pakaian yang terlihat “tidak seksi”—yang bisa menjadi pilihan gaya secara sadar dan kuat. Karena pada akhirnya, fashion selalu menjadi ruang negosiasi antara budaya, identitas, dan preferensi pribadi.
Kesimpulan
Konsep male gaze dan female gaze memberi kita cara baru untuk melihat pakaian bukan hanya sebagai benda, tetapi sebagai bagian dari sistem sosial dan visual.
Male gaze cenderung menempatkan perempuan sebagai objek yang dilihat, sementara female gaze mencoba mengembalikan perspektif kepada perempuan sebagai subjek yang mengekspresikan diri.
Namun di dunia fashion modern yang semakin plural, batas antara keduanya sering kali kabur—dan justru di situlah kreativitas fashion berkembang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Artikel Terkait

Bukan Cuma Buat Pesta Kostum! Rahasia Tampil Glamor dan Edgy Pakai Feather Boa di Era Modern

Sejarah Revenge Dress, Gaun Ikonik Putri Diana yang Akan Kembali Dilelang

Seberapa Canggih Racing Suit MotoGP? Ini Bahan dan Teknologi di Balik Baju Rider
