BahanKain.id
BahanKain.id

Ketika “Berantakan” Jadi Tren: Kenapa Fashion Suka Terlihat Tidak Rapi?

BahanKain
Ketika “Berantakan” Jadi Tren: Kenapa Fashion Suka Terlihat Tidak Rapi?


Celana sobek dijual mahal.

Sepatu terlihat kotor masuk runway.

Layering yang tabrak warna justru disebut editorial.

Kalau dilihat sekilas, tren ini terasa aneh. Bukankah fashion selama ini identik dengan rapi, presisi, dan “niat”? Lalu kenapa dalam beberapa tahun terakhir, estetika yang tampak tidak selesai—kusut, oversized, asimetris, bahkan sengaja terlihat rusak—justru naik kelas?

Fenomena ini bukan sekadar gaya random. Ada pola, sejarah, dan konteks sosial di baliknya.

 

Dari Pemberontakan ke Runway


Sumber: https://uk.pinterest.com/


Estetika “berantakan” sebenarnya bukan hal baru. Ripped jeans misalnya, awalnya muncul sebagai simbol perlawanan dalam kultur punk. Sobekan bukan sekadar dekorasi, melainkan bentuk protes terhadap sistem dan kemapanan.

Ketika elemen seperti ini masuk ke ranah high fashion, maknanya berubah. Ia tidak lagi sekadar pemberontakan jalanan, tapi menjadi eksplorasi desain.

Desainer seperti Rei Kawakubo melalui Comme des Garçons sejak lama mempertanyakan bentuk pakaian konvensional. Siluet yang tidak mengikuti bentuk tubuh, jahitan yang terlihat, struktur yang “tidak selesai” — semua itu adalah cara untuk menantang definisi cantik yang mapan.

Di Eropa, pendekatan serupa juga terlihat dalam karya-karya rumah mode seperti Balenciaga, yang dalam beberapa koleksinya memainkan estetika distopia, deconstructed tailoring, dan siluet ekstrem.

Artinya, “berantakan” dalam fashion bukan berarti asal-asalan. Ia sering kali adalah keputusan desain yang sangat sadar.

 

Dunia Terlalu Rapi, Jadi Kita Cari yang Retak


Sumber: https://www.highsnobiety.com/


Kita hidup di era visual yang sangat terkonstruksi. Media sosial dipenuhi feed yang simetris, warna yang serasi, wajah tanpa tekstur, outfit yang terasa “sempurna”.  Akan tetapi, karena semuanya terlihat terlalu sempurna, jadi muncul kejenuhan.

Estetika messy layering, tabrak tekstur, atau pakaian yang terlihat seperti dipakai tanpa terlalu banyak pertimbangan justru terasa lebih manusiawi. Seolah ada jarak dari kesan “aku mencoba terlalu keras”. Ironisnya, untuk terlihat seperti tidak berusaha, sering kali justru butuh perhitungan matang.

Tren ini bisa dibaca sebagai bentuk resistensi terhadap budaya kesempurnaan digital. Ketika semua orang terlihat polished, sedikit “cacat visual” terasa lebih jujur.

 

Estetika Krisis dan Refleksi Zaman

Sumber: https://s.wsj.net/


Fashion selalu menjadi cermin sosial. Ketika dunia terasa stabil, tren cenderung rapi, glamor, optimis. Tapi ketika dunia mengalami krisis—pandemi, konflik, ketidakpastian ekonomi—estetika yang muncul sering kali ikut berubah.

Beberapa presentasi runway Balenciaga dalam beberapa tahun terakhir, misalnya, menggambarkan suasana berlumpur, berangin, bahkan seperti setelah bencana. Pakaian terlihat berat, kusut, atau terdistorsi.

Banyak pengamat melihat ini sebagai respons terhadap suasana global yang tidak stabil. Dunia terasa retak, maka visual yang muncul pun ikut retak.

Fashion, dalam konteks ini, bukan hanya soal pakaian. Ia menjadi medium ekspresi kolektif.

 

“Ugly Fashion” dan Daya Tarik Reaksi


Sumber: https://www.whowhatwear.com/


Ada istilah yang sering muncul: ugly fashion. Sepatu chunky, siluet oversized ekstrem, atau potongan yang dianggap tidak flattering.

Kenapa sesuatu yang dianggap jelek justru laku?

Karena dalam industri yang sangat kompetitif, reaksi adalah mata uang. Ketika sebuah desain memancing diskusi—entah pro atau kontra—ia berhasil mencuri perhatian. Dan perhatian adalah nilai. Di sinilah letak kekuatan estetika “berantakan”. Ia tidak berusaha menyenangkan semua orang. Ia justru bermain di wilayah tidak nyaman.

 

Kontrol atas Standar

Secara psikologis, memilih outfit yang terlihat tidak sempurna bisa menjadi bentuk kontrol.

·     Kita memilih oversized walau dianggap “tidak membentuk tubuh”.

·     Kita memilih potongan asimetris walau tidak simetris secara visual.

·     Kita memilih distressed detail walau identik dengan rusak.

Keputusan itu mengatakan satu hal: standar tidak lagi tunggal. Fashion modern semakin bergerak dari “apa yang flattering” ke “apa yang ingin aku sampaikan”.

 

Apakah Tren Ini Akan Bertahan?

Mungkin bentuknya akan berubah. Fashion selalu bergerak dalam siklus. Tapi gagasan di baliknya—menantang definisi rapi, cantik, dan sempurna—kemungkinan akan tetap ada. Karena pada akhirnya, fashion bukan hanya tentang tampil indah. Ia adalah bahasa visual. Dan di tengah dunia yang terasa tidak stabil, mungkin gaya yang terlihat sedikit berantakan justru terasa paling relevan.


Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait