BahanKain.id
BahanKain.id

Fenomena Bahaya Pakaian Berbahan Polyester, Apa Saja Risikonya?

BahanKain
Fenomena Bahaya Pakaian Berbahan Polyester, Apa Saja Risikonya?

Beberapa waktu belakangan, isu bahaya pakaian berbahan polyester menjadi perbincangan hangat di media sosial dan berbagai portal informasi. Dampak penggunaannya juga menyedot perhatian industri fashion global.
Lantas, apakah pakaian sintetis ini benar-benar menyimpan risiko bagi kesehatan? Simak pembahasannya, yuk!

Mengenal Serat Polyester dan Dampak Penggunannya 

Polyester adalah jenis serat sintetis yang dibuat dari bahan petrokimia, terutama polyethylene terephthalate (PET) yang juga kerap dipakai dalam produksi botol plastik. Bahan ini dipilih karena sifatnya yang tahan lama, awet, gampang dirawat, serta relatif murah dibanding kain alami seperti katun atau linen.

Namun di balik kemudahan tersebut, sejumlah ahli dan laporan media mulai mengangkat berbagai potensi dampak negatif yang perlu dipahami.

Beberapa diantaranya yaitu:

1.       Risiko Kesehatan untuk Pemakai

·         Iritasi dan sensitivitas kulit

Pakaian yang terbuat dari polyester cenderung kurang “bernapas” karena tidak bisa menyerap keringat dengan baik. Akibatnya, kulit menjadi lembab dan hangat, menciptakan kondisi yang bisa memicu irritasi, ruam, alergi, bahkan dermatitis kontak terutama bagi orang dengan kulit sensitif.

·         Paparan bahan kimia

Selama proses produksi, polyester mengalami perlakuan dengan berbagai bahan kimia seperti formaldehida, ftalat, dan zat pewarna sintetis. Beberapa zat ini dapat tertinggal di kain dan, ketika dipakai atau dipanaskan (misalnya saat dijemur), berpotensi meninggalkan residu kimia yang bersentuhan langsung dengan kulit.

·         Potensi gangguan hormon

Bahan kimia seperti ftalat yang digunakan dalam polyester dikaitkan dengan gangguan sistem endokrin atau hormon, suatu kondisi yang dapat memengaruhi sistem reproduksi dan metabolisme tubuh bila terpapar dalam jangka panjang.

2.       Dampak pada Lingkungan

·         Serat mikroplastik

Diantara permasalahan utamanya adalah bagaimana polyester menyumbang mikroplastik ke lingkungan. Setiap kali pakaian polyester dicuci, serat mikro yang sangat kecil terlepas ke sistem air dan akhirnya bermuara ke sungai, danau, serta laut. Serat ini tidak terurai dan dapat masuk ke rantai makanan — mulai dari plankton, ikan laut, hingga manusia.

·         Tidak mudah terurai

Berbeda dengan bahan alami seperti katun atau linen, polyester tidak mudah terurai secara biologis. Pakaian yang dibuang ke tempat pembuangan sampah dapat tetap ada selama puluhan hingga ratusan tahun, memperparah persoalan limbah plastik global.

3.       Kenyamanan Untuk Iklim Tropis

Selain isu kesehatan dan lingkungan, polyester juga dikenal kurang nyaman dipakai terutama di iklim panas dan lembap seperti Indonesia. Karena tidak menyerap keringat, pakaian berbahan polyester bisa membuat tubuh terasa lebih panas, cepat berkeringat, dan menimbulkan bau yang tidak sedap lebih cepat dibanding bahan alami.

4.       Pilihan Alternatif yang Lebih Ramah

Seiring dengan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan dan lingkungan, banyak desainer serta konsumen kini mulai mempertimbangkan penggunaan bahan alami atau ramah lingkungan, seperti:

·         Katun organik: lebih lembut di kulit dan dapat menyerap keringat.

·         Linen: kuat, sejuk, dan lebih mudah terurai.

·         Serat bambu: memiliki sifat antibakteri alami dan nyaman dipakai.

Walaupun bahan polyester memiliki sejumlah keunggulan seperti ketahanan dan harga terjangkau, terdapat sejumlah potensi risiko kesehatan dan dampak lingkungan yang perlu diperhatikan. Konsumen disarankan untuk lebih jeli dalam memilih pakaian, terutama jika memiliki kulit sensitif atau peduli terhadap isu lingkungan.

Menimbang pilihan bahan yang lebih alami dan ramah kulit bisa menjadi langkah cerdas bagi kesehatan jangka panjang dan kelestarian bumi. 

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait