Lebih dari Sekadar Gaya: Membongkar Aturan Fashion "Ketat" Para Wanita Kerajaan Eropa

Pernahkah kamu memperhatikan kalau Kate Middleton selalu memakai stoking tipis, atau bertanya-tanya mengapa Ratu Letizia dari Spanyol hampir tidak pernah terlihat memakai warna cat kuku yang mencolok?
Di dunia kita, fashion adalah ekspresi diri. Tapi di dalam istana kerajaan Eropa, pakaian adalah protokol, diplomasi, dan pernyataan politik. Menjadi seorang putri atau ratu berarti harus tunduk pada aturan etiket yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, namun tetap harus terlihat relevan di era Instagram.
Penasaran apa saja rahasia di balik lemari pakaian para bangsawan ini? Yuk, kita bedah tuntas!
1. Topi vs. Tiara: Aturan "Jam 6 Sore"
Ini adalah salah satu aturan paling mendasar dalam etiket bangsawan. Di acara formal siang hari, topi adalah kewajiban. Tapi begitu matahari terbenam, keadaan berubah.
· Siang Hari: Anggota kerajaan wanita wajib memakai topi atau fascinator untuk acara resmi (seperti pernikahan atau pacuan kuda Royal Ascot). Ini adalah sisa-sisa tradisi lama di mana wanita harus menutup rambut mereka di depan umum.
· Malam Hari (Setelah Jam 6 Sore): Inilah saatnya berlian keluar! Tiara hanya boleh dipakai untuk acara white-tie setelah jam 6 sore.
· Status Pernikahan: Tahukah kamu? Secara tradisional, tiara adalah tanda bahwa seorang wanita sudah menikah. Jadi, jangan harap melihat putri yang masih melajang memakai tiara di acara resmi; yang menyatakan mengenakan tiara adalah sinyal bahwa dia "tidak lagi tersedia" di pasar pernikahan.
2. Rahasia di Balik Rok yang Tidak Pernah "Terbang"
Pernah melihat rok Kate Middleton atau Ratu Mary dari Denmark tertiup angin kencang tapi tetap rapi menempel di kaki? Itu bukan sihir, tapi trik penjahit profesional.
Para wanita kerajaan sering meminta penjahit mereka untuk menjahit pemberat tirai kecil atau koin di dalam keliman (ujung bawah/hemline) rok mereka. Tujuannya sederhana: mencegah insiden "Marilyn Monroe" saat mereka turun dari pesawat atau berjalan di landasan pacu yang berangin. Kesopanan adalah harga mati.
3. Diplomasi Lewat Busana (Diplomatic Dressing)
Seorang ratu tidak hanya memakai baju karena "lucu". Setiap warna dan aksesori dipilih dengan riset mendalam. Ini disebut Diplomatic Dressing.
Saat melakukan kunjungan kenegaraan, mereka akan menggunakan warna yang menghormati tuan rumah. Misalnya:
· Memakai warna hijau saat ke Irlandia.
· Menyematkan bros berbentuk bunga sakura saat ke Jepang.
· Mengenakan desainer lokal dari negara yang dikunjungi.
Ini adalah cara halus untuk berkata, "Kami menghormati budaya Anda," tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
4. Tas Tangan Sebagai "Perisai"
Sumber: https://royalcentral.co.uk/
Pernah memperhatikan mengapa banyak
putri kerajaan lebih suka membawa clutch
(tas genggam kecil) daripada tas bahu? Ada fungsi taktis di baliknya:
· Menghindari Jabat Tangan: Jika seorang putri memegang tas dengan kedua tangan di depannya, itu adalah sinyal sopan bahwa dia tidak ingin atau tidak bisa bersalaman dengan semua orang di kerumunan.
· Menutup Belahan Dada: Mendiang Putri Diana sering menggunakan clutch-nya untuk menutupi bagian dadanya saat keluar dari mobil agar tidak tertangkap kamera paparazi dari sudut yang tidak sopan.
5. Protokol Kecantikan: No Neon, No Long Nails
Jangan harap melihat kuku panjang berbentuk stiletto atau warna biru elektrik di tangan seorang ratu.
· Cat Kuku: Aturannya adalah warna netral, nude, atau merah muda pucat. Ratu Elizabeth II, misalnya, setia pada satu warna selama 30 tahun: "Essie Ballet Slippers".
· Stoking Wajib: Meski cuaca panas, memakai stoking berwarna kulit (nude tights) adalah standar formal di banyak kerajaan, terutama Inggris. Ini memberikan kesan kaki yang rapi dan profesional.
6. Baju Hitam yang "Wajib" Ada di Koper
Aturan ini mungkin terdengar sedikit kelam. Setiap anggota keluarga kerajaan yang bepergian ke luar negeri wajib membawa satu set pakaian hitam lengkap untuk berkabung.
Kenapa? Agar jika ada anggota keluarga inti yang meninggal secara mendadak saat mereka sedang pergi, mereka bisa mendarat kembali di tanah air dengan pakaian yang sesuai. Aturan ini diperketat setelah Ratu Elizabeth II harus menunggu di dalam pesawat saat kembali dari Kenya pada tahun 1952 karena dia tidak punya baju hitam untuk keluar setelah ayahnya wafat.
Kesimpulan: Tradisi vs Modernitas
Meskipun zaman sudah modern dan banyak putri seperti Ratu Letizia atau Putri Victoria dari Swedia mulai memakai celana panjang atau baju dari toko retail biasa (seperti Zara atau H&M), aturan-aturan dasar ini tetap dijaga untuk mempertahankan martabat institusi kerajaan.
Fashion bagi mereka bukan soal menjadi yang paling tren, tapi soal menjadi yang paling tepat.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!



