BahanKain.id
BahanKain.id

Pure Linen Mahal dan Mudah Susut? Ini Alasan Pakaian Linen Blend Lebih Populer!

BahanKain
Pure Linen Mahal dan Mudah Susut? Ini Alasan Pakaian Linen Blend Lebih Populer!

Kain linen dikenal sebagai salah satu material favorit untuk pakaian serta keperluan home decor. Selain penampilan yang unik, linen juga menawarkan kekuatan, ketahahan serta daya penyerapan maksimal. Namun, ketika menelusuri toko-toko pakaian, kamu akan menemukan fakta bahwa mayoritas pakaian berlabel linen sebenarnya adalah linen campuran alias linen blend.

Diantara alasan terbesarnya adalah karena harga kain linen natural yang jauh lebih mahal dan gampang susut. Lantas, benarkah demikian? Simak ulasan berikut ini, yuk!

Sekilas Tentang Kain Linen

Linen adalah salah satu bahan tekstil tertua yang pernah digunakan manusia, dibuat dari serat alami tanaman rami (flax). Dikenal karena sifatnya yang luar biasa kuat, tahan lama, dan sangat higroskopis (mampu menyerap kelembaban dengan baik), linen menjadi pilihan utama untuk pakaian musim panas.

Struktur seratnya yang unik memungkinkan sirkulasi udara yang unggul, memberikan sensasi dingin yang tidak tertandingi.

Selama berabad-abad, linen telah dihargai karena kemampuannya yang unik untuk menjaga pemakainya tetap sejuk di tengah cuaca terik. Sayangnya, keunggulan tersebut harus dibayar mahal dengan beberapa faktor yang cukup menyulitkan produsen maupun konsumen. Hal ini jugalah yang membuat kain linen 100% jarang digunakan sebagai bahan pakaian.

Untuk memaksimalkan performanya, linen bisa dicampur dengan serat lain yang lebih terjangkau dan tahan susut (linen blend). Entah itu katun linen, rayon linen, linen rami, atau polo linen yang merupakan campuran antara linen dan serat sintetis. Ada juga linen look yang bahan bakunya 100% serat katun tapi look atau penampilannya mirip kain linen. 


Alasan Kenapa Linen Murni Kurang Disukai Untuk Bahan Pakaian

Linen secara natural berasal dari batang tanaman rami (Linum usitatissimum) termasuk dalam kategori serat selulosa alami. Karakternya mirip katun namun struktur seratnya jauh lebih padat. Sifat-sifat itulah yang menjadi keunggulan sekaligus akar masalah kepraktisan dan proses produksi busana pure linen.


Lebih jelasnya, berikut 5 faktor utama yang menjadikan linen murni kurang populer di pasar busana ready to wear.

1.       Penyusutan (shrinkage)

Linen adalah serat yang memiliki sifat higroskopisitas tinggi (daya serap), sangat sensitif terhadap air dan panas. Faktor inilah yang menjadi penyebab utama masalah perubahan dimensi pakaian atau penyusutan.

Pada pencucian pertama (pre-shrunk), kain linen murni bisa menyusut sekitar 3 hingga 10%. Nilai yang tinggi untuk digunakan sebagai bahan pakaian, terutama dailywear. Sifat ini bisa mengubah ukuran secara permanen. Pakaian yang awalnya pas, bisa jadi terlalu pendek setelah dicuci pertama kali.

Produsen garmen pun harus menambahkan proses pre-shrunk yang memakan waktu dan biaya guna memastikan pakaian tetap stabil dan menambah kompleksitas produksi.

2.       Kekusutan yang permanen (high wrinkle factor)

Kekusutan pada kain linen murni memang sangat khas. Namun, banyak orang mengeluhkan sifat ini dan menjadikannya kelemahan paling fatal dari linen 100%.

Elastisitas linen benar-benar buruk. erutan terbentuk secara permanen, begitu pakaian ditekuk, dilipat, atau digunakan duduk dalam waktu lama.

Kerutan alami memang ampuh menciptakan gaya effortlessly chic atau kesan santai. Tapi, tetap saja nggak rapi. Sekalipun kekusutannya bisa berkurang dengan setrika uap saat masih lembap. Kerutan baru akan muncul lagi dalam waktu singkat setelah pakaian digunakan beraktivitas.

Pakaian linen murni sangat sulit mempertahankan penampilan rapi dan terstruktur, suatu hal yang menjadi tuntutan tinggi di pasar pakaian siap pakai (ready-to-wear).

Baca Juga:
Kain Linen Tumanggal, Pilihan Tepat Untuk Home Decor Dan Kerajinan Tangan

3.       Bobot dan kekakuan (Initial Stiffness and Weight)

Pakaian linen mungkin terasa ringan saat dikenakan. Tapi serat linen 100% tanpa pengolahan khusus memiliki kerapatan yang membuat kain terasa lebih berat dan kaku dibandingkan katun atau viscose.

Walaupun bisa melunak seiring waktu dan pencucian, kekakuan awal ini mengurangi daya tarik kenyamanan para penggunanya. Di sisi lain, jika linen ditenun terlalu tipis untuk mengurangi bobot, maka hasilnya akan menerawang. Keseimbangan antara bobot, keademan, dan ketebalan yang pas merupakan tantangan tersendiri bagi linen murni.

4.       Butuh perawatan khusus (high maintenance)


Kain Linen Slub 15x15

Produk yang terbuat dari bahan linen 100% juga dikenal menuntut perawatan khusus. Hal ini tentu menjadi sebuah tantangan besar bagi konsumen modern yang mencari kepraktisan.

·         Kain linen murni sangat sensitif terhadap panas. Pantang baginya masuk ke mesin pengering bersuhu tinggi karena bisa menyebabkan penyusutan parah.

·         Linen juga sensitif terhadap zat kimia keras dan residu. Menjadikannya rentan terhadap zat kimia basa pada deterjen atau pemutih berbasis klorin. Keduanya bisa merusak serat linen, membuatnya rapuh, bahkan dapat mengubah warna putih jadi kekuningan.

·         Pakaian dari bahan pure linen harus dicuci secara manual atau dengan siklus pencuciian lembut pada mesin cuci. Ia tidak boleh diperas atau dipelintir terlalu keras agar seratnya tidak mengalami kerusakan dan perubahan bentuk.

5.       Biaya produksi tinggi

Proses pengolahan kain linen dari serat batang tanaman rami jauh lebih kompleks dan padat karya dibandingkan kapas (katun). Menjadikannya bahan baku yang secara inheren lebih mahal.

Biaya produksi yang tinggi ini otomatis berdampak pada harga jual produk akhir yang premium. Harga premium membatasi fashion linen murni hanya pada segmen pasar mewah. Untuk menembus pasar yang lebih luas, biaya harus ditekan.

6.       Linen blend tetap pilihan terbaik

Pada akhirnya, linen campuran (linen blend) tetap menjadi alternatif terbaik untuk merasakan keunggulan kain linen tanpa mengorbankan kenyamanan serta kepraktisan.

·         Katun Linen

Katun menambah elastisitas, mengurangi kerutan dan membuat pakaian tidak mudah lecek.  Memberikan tekstur yang lebih lembut serta nyaman saat bersentuhan dengan kulit.

·         Rayon/Viscose Linen     

Rayon memberikan kesan jatuh (drappery) yang anggun dan ringan. Sehingga menurunkan biaya produksi secara signifikan.

·         Polyester Linen (polo linen)

Kombinasi linen dan polyester menghasilkan kain yang stabil dan meminimalkan risiko penyusutan setelah dicuci. Serat sintetis ini juga juga membuat pakaian lebih tahan lama dan mudah disetrika.

Itu dia beberapa alasan yang mendasari minimnya penggunaan kain pure linen sebagai bahan pakaian. Nggak cuma harga dan biaya produksinya saja yang mahal, tapi keluwesan serta nilai kepraktisan juga menjadi tantangan utama. Terlepas segala tantangan tersebut, linen tetaplah material tekstil paling kuat yang bisa diandalkan untuk kebutuhan pakaian, aksesoris hingga home decor. 

Nah, Sobat Bahankain lagi butuh kain linen jenis apa nih? BahanKain.id punya berbagai jenis kain linen, lho. Mulai dari linen natural, linen tumanggal hingga linen blend yang bisa diandalkan untuk membuat beragam produk fashion. 

Pilih kain yang kamu inginkan di Kategori Produk. 
Atau hubungi customer service BahanKain.id untuk detail produk, pemesanan atau sekedar konsultasi dan dapatkan penawaran terbaik dari kami. Semoga bisa membantu ya, Sobat Bahankain!

Kain Linen Natural 14x14  


Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait