BahanKain.id
BahanKain.id

Overlock vs Flatlock, Mana Yang Paling Sesuai Untuk Proyek Jahitmu?

BahanKain
Overlock vs Flatlock, Mana Yang Paling Sesuai Untuk Proyek Jahitmu?

Konstruksi jahitan memainkan peran penting dalam menentukan kenyamanan, daya tahan, serta penampilan sebuah pakaian. Selain detail jahitan yang menggabungkan tiap potongan kain, finishing tepi kain juga sangat menentukan performa produk garmen. Setidaknya ada dua teknik penyelesaian yang umum diterapkan dalam produksi pakaian modern, yaitu flatlock dan overlock atau coverstitch.

Meski sama-sama bisa diaplikasikan dengan mesin serger (obras), namun teknik penyelesaian jahitan overlock dan flatlock memiliki perbedeaan yang sangat mendasar. Apa sajakah itu? Simak ulasan berikut ini, yuk!

Overlock Vs Flatlock

Mungkin Sobat Bahankain sudah tidak asing dengan jahitan overlock yang disebut juga obras. Sebuah teknik penyelesaian pakaian cara memangkas tepi kain lalu membungkusnya menggunakan benang yang saling bertautan agar sisa kain tidak berjumbai. Hasilnya berupa konstruksi jahitan yang rapi, kuat dan tahan lama. Mayoritas pakaian menggunakan jenis penyelesaian ini, terutama pada bahan rajutan atau lockrand.

Tapi, pernahkah kamu memperhatikan detail akhir jahitan yang halus dan rata pada legging olahraga?  Nah, finishing itulah yang dinamakan flatlock alias pengunci datar. Yaitu sebuah teknik untuk menghasilkan struktur jahitan yang rata tanpa lipatan tebal, karena kain dijahit saling bertemu ujungnya (edge to edge)

Prosesnya dimulai dengan meletakkan dua potong kain di atas satu sama lain. Kemudian jarum pada mesin akan bergerak dari sisi kanan ke kiri menjahit sepanjang tepi kain. Menciptakan flap di sisi buruk atau bagian dalam pakaian tanpa ada sudut kain yang menonjol dan mengganggu kenyamanan.

Perbedaan Overlock dan Flatlock

Perbedaan utama antara jahitan overlock dan flatlock adalah tujuan dasar pengaplikasian dan struktur tusukannya. Dimana overlock untuk membungkus dan merapikan produk garmen dengan struktur jahitan melingkar atau diagonal di sekitaran tepi kain.

Sedangkan jahitan flatlock berfungsi menyatukan dua potongan kain secara rata dengan struktur jahitan di sisi dalam menyerupai anak tangga dan datar di bagian luarnya. 

Selain itu, berikut penjelasan lengkap mengenai perbedaan jahitan overlock dan flatlock:

1.       Struktur jahitan dan proses pembentukan

Jahitan overlock dibuat menggunakan mesin serger yang dilengkapi pisau pemotong. Mesin ini menjalankan fungsi menyambung sekaligus melindungi tepi kain. Benang looper secara aktif melilit rapat di sekeliling tepi kain yang baru dipotong, menciptakan lapisan yang menyegel seluruh pinggiran material.

Disisi lain, flatlock membutuhkan penyesuaian tegangan pada mesin serger, menyatukan dua tepi kain yang diposisikan saling bersebelahan. Tegangan benang dari jarum diatur longgar dan kendang pada bagian looper. Ini memungkinkan sambungan ditarik hingga terbuka penuh untuk menghasilkan struktut jahitan mendatar atau pipih.

2.       Profil Sambungan dan Hasil Akhir

Perbedaan paling kentara terletak pada hasil akhirnya. Sambungan Overlock selalu menghasilkan profil timbul (raised profile) di sisi interior garmen. Hal ini terjadi karena dua lapisan kain disatukan dan seam allowance (kampuh jahitan) yang terbungkus oleh benang dilipat ke salah satu sisi.

Kontrasnya, sambungan flatlock mencapai hasil akhir yang rata sempurna (completely flat) di kedua permukaan kain, menghilangkan segala bentuk tumpukan material. Profil rata ini, yang sering menampilkan pola "tangga" atau garis melintang yang jelas, dapat disajikan sebagai elemen dekoratif dengan menggunakan benang berwarna kontras.

3.       Fungsi dan kegunaan

Prioritas fungsi menentukan penggunaan kedua jahitan ini. Overlock dipilih karena kekuatan struktural dan kemampuannya untuk mencegah material terurai (fraying) secara efisien. Berikut fungsi utama overlock:

·         Menutup tepi kain supaya tidak terurai.

·         Menggabungkan dua potong kain dengan hasil jahitan yang kuat.

·         Umum dipakai dan menjadi standar dalam industri garmen pada mayoritas pakaian sehari-hari. Terutama pada baju, rok, celana dan sweter yang membutuhkan daya tahan maksimal.

Sementara flatlock diaplikasikan pada produk garemen yang memprioritaskan kenyamanan maksimal dan elastisitas. Karena tidak menciptakan tonjolan atau lapisan tebal di bagian dalam, jahitan ini adalah solusi ideal untuk garmen yang bersentuhan langsung dan ketat pada kulit, seperti activewear, legging yoga, dan pakaian renang, karena mencegah iritasi atau gesekan (chafing) selama melakukan gerakan intensif.

4.       Jumlah benang yang digunakan

Proses jahit overlock bisa menggunakan 3, 4, atau 5 benang. Dimana makin banyak benang yang dipakai, maka hasil jahitannya akan semakin kuat. Untuk merapikan jahitan cukup dengan 3 benang, naming jika ingin menambah kekuatan, sebaiknya gunakan 4–5 benang sekaligus.

Flatlock umumnya hanya memakai 3 buah benang. Karena fokusnya bukan pada kekuatan maksimal, melainkan pada hasil rata dan fleksibel.

Itu dia beberapa hal yang membedakan antara jahitan overlock dan flatlock. Pada prinsipnya, kedua teknik jahitan ini punya fungsi dan kegunaan masing-masing. Pilih mana yang paling sesuai dengan kebutuhan produkmu. Semoga pengetahuan ini bermanfaat ya!

Sobat Bahankain lagi punya project menjahit apa nih? Di BahanKain.id, Anda bisa menemukan beragam pilihan kain berkualitas yang cocok untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari pakaian sehari-hari hingga busana olahraga dan fashion premium.

Silahkan cek Kategori Produk dan temukan kain yang kamu cari.

Atau langsung hubungi customer service BahanKain.id dan dapatkan solusi terbaik untuk setiap kebutuhan tekstil Anda. 

Kain Spandex Jersey Hitam 


Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait