BahanKain.id
BahanKain.id

Bahaya Thrifting: Risiko Penyakit yang Wajib Kamu Tahu!

BahanKain
Bahaya Thrifting: Risiko Penyakit yang Wajib Kamu Tahu!

Beberapa tahun belakangan, budaya thrifting cukup menghebohkan pasar fashion lokal. Banyak orang rela berdesak-desakan untuk memilih baju ataupun barang bekas yang sesuai dengan selera dan kebutuhan mereka. Karena jika beruntung, mereka bisa menemukan pakaian bekas dari merk-merk ternama yang dijual dengan harga jauh lebih murah.

Padahal namanya 'bekas' itu pasti adaa saja cacatnya. Entah itu noda, bekas keringat hingga hal yang paling berbahaya yaitu bakteri dan mikroorganisme penyebab penyakit.

Sudah tahukah kamu akah risiko tersebut? Coba simak ulasan berikut ini!

Bahaya Dibalik Popularitas Baju Thrifting

Menggunakan kembali barang bekas, termasuk pakaian, sudah menjadi tren global yang dikenal dengan istilah thrifting. Banyak orang terobsesi untuk membeli baju thrift alias baju bekas karena harganya yang terjangkau dan seringkali unik.

Namun, faktanya tumpukan baju yang menggiurkan itu bisa menjadi sarang bakteri serta mikroorganisme penyebab penyakit. Pakaian yang seharusnya melindungi tubuh, justru bisa menjadi ancaman sekaligus sumber dari berbagai jenis penyakit jika tidak ditangani dengan benar. Apalagi kalau baju hasil thrifting langsung dipakai tanpa dicuci terlebih dahulu.

Berikut beberapa risiko penyakit kulit yang mengintaimu:

1.       Kudis (Scabies)

Kudis disebabkan oleh tungau kecil bernama Sarcoptes Scabiei yang dapat bertahan hidup pada pakaian dan kain selama beberapa hari. Penularannya bisa terjadi melalui kulit yang terinfeksi maupun pakaian yang terkontaminasi. Gejala kudis berupa rasa gatal hebat, terutama pada malam hari, ruam, dan benjolan kecil.

2.       Dermatofitosis (Tinea atau Kurap)

Infeksi jamur ini menyerang kulit, rambut, serta kuku. Jamur dermatofit mampu bertahan lama pada kain, terutama dalam kondisi lembap. Penularan dapat terjadi melalui pakaian bekas atau pakaian yang dicoba orang lain di toko. Gejalanya berupa bercak merah yang gatal dan bersisik, dan bisa menyebar jika tidak diobati.

Baca Juga:

5 Kota Fashion di Indonesia: Pusat Mode dan Konveksi Lokal

3.       Herpes Simpleks

Meskipun penularan utamanya melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, virus herpes simpleks (HSV) bisa saja tertinggal di kain dan menular lewat pakaian. Infeksi ini menyebabkan luka pada kulit atau area mulut dan alat kelamin, tergantung jenis virusnya.

4.       Moluskum Kontagiosum

Penyakit kulit ini dapat menimbulkan bintil-bintil kecil yang keras dan berbentuk seperti kubah di kulit. Virus dapat menyebar melalui kontak langsung maupun lewat benda dan pakaian yang terkontaminasi. 

5.       Infeksi Bakteri (Impetigo)

Pakaian yang terkontaminasi bakteri seperti Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes bisa menularkan infeksi kulit seperti impetigo. Penyakit ini ditandai dengan luka berisi cairan yang kemudian membentuk kerak. Bakteri tersebut dapat hidup pada pakaian dan menular saat bersentuhan dengan luka terbuka di kulit.

6.       Pedikulosis (Kutu)

Kutu kepala dan kutu badan bisa menempel pada pakaian atau barang pribadi seperti topi dan sisir. Kutu badan hidup di pakaian dan berpindah ke kulit untuk menghisap darah. Gejalanya meliputi rasa gatal hebat dan luka akibat garukan. Infestasi kutu sangat mudah menyebar dalam lingkungan yang padat dan lembap.

7.       Iritasi Kulit dan Alergi

Selain mikroba, pakaian baru seringkali mengandung bahan kimia seperti formaldehida yang digunakan untuk menjaga pakaian tetap bebas kerutan dan jamur selama pengiriman. Zat ini bisa menyebabkan iritasi atau reaksi alergi, terutama bagi mereka yang memiliki kulit sensitif.


Cara Terbaik Mencuci Baju Thrifting

Mencuci baju thrifting itu wajib, loh. Walaupun terlihat bersih, namun kita tak pernah tahu siapa pemakainya dan apa yang tersembunyi di balik seratnya. Baju tersebut berpotensi membawa kuman, jamur, dan bahkan tungau dari pemilik sebelumnya atau baju lain.

Oleh sebab itu, mencuci adalah cara paling efektif untuk menghilangkan debu dan bau apek, serta memastikan pakaian tersebut benar-benar aman saat digunakan. Berikut cara mencuci baju thrift yang benar:

·         Sortir Pakaian dan lakukan pre treatment

Sebelum mencuci, sortirlah pakaian berdasarkan warna, jenis bahan dan perhatikan label perawatannya. Pakaian berbahan wol, sutra, atau rayon butuh perlakuan khusus agar tidak rusak atau menyusut.

Periksa juga tiap bagian pakaian apakah ada noda atau area yang sangat kotor. Jika ada, oleskan cairan penghilang noda atau sedikit sabun cuci piring dan tunggu selama 15 hingga 30 menit. Ini akan membantu melonggarkan kotoran dari serat pakaian.

·         Rendam dengan disinfektan

Perendaman adalah kunci utama membunuh mikroorganisme yang tidak terlihat. Isi baskom dengan air panas, lalu tambahkan cairan disinfektan sebagai penghilang bau apek. Disini kamu bisa mengandalkan cuka putih atau boraks (natrium tetraboarat). Detergen yang mengandung antiseptik atau disinfektan juga bisa menjadi pilihan terbaik.

Rendam pakaian selama kurang lebih 30 menit untuk meluruhkan kotoran, menghilangkan bau, serta membasmi jamur, bakteri, dan tungau yang mungkin menempel di serat kain.

·         Cuci dengan Air Panas

Air panas adalah salah satu cara paling efektif untuk membunuh bakteri, kuman, dan tungau. Periksa label pakaian dan pastikan bahan bisa dicuci menggunakan air panas dengan suhu di atas 60°C. Jika jenis kainnya tidak mendukung pencucian tersebut, gunakan siklus air dingin dan tambahkan disinfektan cair.

·         Jemur dan setrika

Sinar ultraviolet (UV) dari matahari adalah disinfektan alami. Jadi, setelah mencuci, jemur pakaian di luar ruangan di bawah sinar matahari langsung hingga benar-benar kering.

Langkah terakhir yang tak kalah penting yaitu menyetrika pakaian. Panas dari setrika dapat membantu membasmi kuman yang mungkin masih bertahan.

Meski thrifting memberikan banyak keuntungan, seperti harga yang bersahabat dan pilihan busana yang unik, ada risiko kesehatan yang tak bisa diabaikan jika tidak ditangani dengan benar.

Akan lebih baik kalau kamu mengurangi rutinitas thrifting. Dan pertimbangkan untuk membeli baju dan produk baru dari brand-brand lokal yang lebih terjamin kebersihan serta keamanannya. Yuk, beli produk lokal! 

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait