BahanKain.id
BahanKain.id

Mengenal Proses Pembuatan Kain Non-Woven

BahanKain
Mengenal Proses Pembuatan Kain Non-Woven

Kain nonvowen adalah jenis bahan tekstil yang terbentuk dari susunan serat yang tidak dipintal ataupun ditenun. Dibuat menggunakan bahan dasanya serat sintetis, serat alami, atau serat campuran yang disatukan dengan panas, bahan kimia maupun proses mekanis (felting dan hidro weaving).

Dibandingkan kain tenun konvensional, biaya produksi kain non-woven jauh lebih rendah. Bobotnya juga ringan serta memiliki kemampuan saring yang baik. Pada prinsipnya, mekanisme pembuatan kain non-woven terbagi menjadi dua tahapan utama yaitu pembentukan web (menyusun serat jadi lembaran) dan pengikatan serat.

Berikut ulasan lengkapnya:

1.       Pembentukan web (web forming)


Sumber: https://acmemills.com/

Web-forming merupakan fondasi dari seluruh proses pembuatan kain non-woven. Dimana serat yang semula terpisah tak beraturan, disusun menjadi sebuah lembaran kohesif yang disebut 'web'. Mekanisme ini sangat menentukan struktur dan karakteristik dasar kain yang akan dihasilkan.

da tiga cara utama untuk melakukannya:

·         Dry-laid (Pembentukan Kering)

Metode ini menggunakan serat pendek (stapel) yang dilepaskan dan disebarkan secara acak atau searah menggunakan aliran udara atau mesin carding. Proses ini mirip dengan menyisir serat untuk mendapatkan susunan yang rapi. Metode ini ideal untuk menghasilkan kain dengan berat ringan hingga sedang, seperti lapisan dalam pada produk higienis.

·         Wet-laid (Pembentukan Basah)

Mirip dengan proses pembuatan kertas, serat dicampur dengan air untuk membentuk bubur. Campuran ini kemudian disaring, di mana airnya dihilangkan, menyisakan lembaran serat yang saling terjalin. Metode ini menghasilkan kain yang sangat seragam dan sering digunakan untuk filter, bahan medis, dan kain lap pembersih.

·         Spun-laid (Pembentukan Langsung)

Ini adalah metode yang paling modern. Polimer leleh diekstrusi melalui lubang-lubang kecil (spinneret) untuk membentuk filamen-filamen panjang yang tak terputus. Filamen ini kemudian didistribusikan secara acak pada sabuk berjalan untuk membentuk web. Salah satu contoh paling umum dari metode ini adalah kain spunbond, yang dikenal karena kekuatannya.

2.       Pengikatan serat (bonding)


Sumber: https://vnpolyfiber.com/

Setelah web terbentuk, serat harus diikat secara permanen agar menjadi kain yang kuat. Proses pengikatan ini menentukan sifat akhir dari kain non-woven.

·         Pengikatan Termal (Thermal Bonding)

Metode ini menggunakan panas dan tekanan untuk melelehkan sebagian serat termoplastik, sehingga mereka saling menempel. Contohnya adalah melalui rol panas (kalender) yang menekan web, atau metode udara panas yang mengikat serat di seluruh web. Kain yang dihasilkan dari proses ini cenderung kuat dan stabil.

·         Pengikatan Mekanis (Mechanical Bonding)

Needle Punching: Ribuan jarum bergerigi menusuk web serat, mengacak dan menjerat serat-serat, sehingga saling mengunci. Hasilnya adalah kain yang tebal, padat, dan sangat kuat, sering digunakan untuk karpet, geotekstil, dan isolasi.

Hydroentangling (Spunlace): Ini adalah metode ikatan bebas bahan kimia yang menggunakan semburan air bertekanan tinggi untuk mengikat serat. Aliran air yang kuat mengacak dan menjerat serat-serat, membentuk ikatan yang kuat. Kain yang dihasilkan sangat lembut dan menyerap, menjadikannya pilihan ideal untuk tisu basah dan kain pembersih.

Melt blown (peleburan lelehan)

Sebenarnya, proses meltblown hampir mirip spun-laid, tapi hasilnya jauh lebih halus dengan efisiensi filtrasi lebih tinggi.  meltblown dibuat dengan mengekstruksi polimer cair melalui nozel kecil untuk membentuk serat mikro yang dihamparkan dalam pola acak untuk membentuk jaring. Contohnya yaitu kain nonwoven meltblown PP yang umum diaplikasikan pada masker wajah dan filter.

·         Pengikatan Kimia (Chemical Bonding): Metode ini menggunakan bahan perekat, seperti lem atau polimer akrilik, yang disemprotkan atau dicelupkan ke web. Setelah kering atau dipanaskan, bahan pengikat akan mengunci serat-serat. Kain yang dihasilkan cenderung lebih kaku dan kuat, sering digunakan sebagai bahan pelapis atau pengisi.

Itulah beberapa metode yang digunakan dalam produksi kain non-woven. Atas dasar mekanisme tersebut kain non-woven terbagi menjadi beberapa jenis, seperti kain spunbond, needlepunch, wet-laid, spunlace, dan kain melt-blown.

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait