BahanKain.id
BahanKain.id

Membedah Fenomena Cultural Appropriation dalam Dunia Fashion

BahanKain
Membedah Fenomena Cultural Appropriation dalam Dunia Fashion

Fashion itu dinamis, selalu bergerak, dan seringkali mencari inspirasi dari berbagai sudut dunia. Tapi, di balik gemerlapnya tren dan kreasi baru, ada satu isu yang belakangan ini sering jadi sorotan: cultural appropriation atau apropisiasi budaya. Mungkin sering dengar istilah ini, tapi apa sih sebenarnya? Dan kenapa ini jadi masalah serius di dunia mode?

 

Apa Itu Cultural Appropriation?

Gampangnya, cultural appropriation dalam fashion adalah ketika desainer atau merek mengambil elemen-elemen dari budaya lain (terutama budaya yang minoritas atau kurang punya kuasa), lalu memakainya dalam desain mereka tanpa pemahaman, rasa hormat, atau pengakuan yang layak terhadap makna asli dan sejarah di baliknya.

Bayangkan begini: ada suku adat yang punya motif kain atau hiasan kepala yang sangat sakral, punya cerita panjang, dan hanya dipakai di acara tertentu. Tiba-tiba, motif itu muncul di runway fashion ternama, dipakai model internasional, lalu dijual massal sebagai "tren eksotis." Masalahnya, desainer atau merek itu mungkin tidak tahu apa-apa tentang makna di balik motif itu, tidak menyebutkan asal-usulnya, apalagi berkolaborasi dengan komunitas pemilik budaya. Mereka cuma "meminjam" estetikanya saja.

Ini beda jauh dengan apresiasi budaya, lho. Kalau apresiasi, ada upaya untuk belajar, menghargai, dan mungkin berkolaborasi dengan komunitas aslinya. Ada rasa hormat dan niat baik untuk merayakan keragaman, bukan cuma mengeksploitasi visualnya.

 

Kenapa Ini Jadi Masalah Besar?

Mungkin ada yang berpikir, "Ah, tapi kan cuma inspirasi, memang apa salahnya?" Eits, jangan salah. Ada beberapa alasan kuat kenapa cultural appropriation ini bisa jadi bumerang dan menimbulkan kemarahan:

·     Hilangnya Makna Asli: Elemen budaya yang punya makna mendalam, spiritual, atau historis bisa jadi cuma sekadar "aksesori" kosong saat dijadikan tren. Ini bisa sangat menyakitkan bagi pemilik budaya aslinya.

·     Keuntungan Tanpa Balasan: Seringkali, merek besar meraup keuntungan finansial dari budaya yang mereka ambil, sementara komunitas yang menciptakan dan melestarikan budaya itu tidak dapat apa-apa, bahkan pengakuan pun tidak.

·     Memperkuat Stereotip: Penggunaan yang tidak hati-hati justru bisa memperkuat stereotip negatif tentang suatu budaya, alih-alih membangun pemahaman yang lebih baik.

·     Penghinaan dan Ketidakadilan: Bagi komunitas yang budayanya terus-menerus diambil tanpa izin dan rasa hormat, ini terasa seperti penghinaan, bahkan bisa disebut bentuk perampasan. Mereka mungkin selama ini berjuang melestarikan budayanya, tapi orang lain seenaknya saja mengambil dan mengkomersialkan.

 

Contoh Nyata Cultural Appropriation di Dunia Fashion

Kasus-kasus cultural appropriation seringkali menjadi perdebatan sengit di media sosial dan berita fashion. Berikut beberapa contoh paling terkenal:

1. Hiasan Kepala Suku Adat (Native American Headdresses)

Salah satu contoh paling ikonik dan sering terjadi adalah penggunaan hiasan kepala suku adat Amerika Utara sebagai aksesori mode. Hiasan kepala ini sebenarnya adalah simbol kehormatan, kepemimpinan, dan spiritualitas yang sangat penting bagi suku-suku tertentu. Hanya pemimpin atau prajurit yang telah menunjukkan keberanian dan pengabdian luar biasa yang boleh memakainya.


Contoh Kasus:

·     Victoria's Secret Fashion Show 2012: Model Karlie Kloss muncul di runway dengan hiasan kepala khas suku adat Amerika Utara. Ini langsung memicu badai kritik karena dianggap meremehkan makna sakral hiasan kepala tersebut dan mengkomodifikasi identitas budaya. Victoria's Secret akhirnya meminta maaf dan menghapus segmen itu dari siaran.

·     Festival Musik (Coachella, dll.): Selama bertahun-tahun, hiasan kepala semacam ini sering terlihat dipakai pengunjung festival yang menganggapnya "aksesori bohemian" tanpa tahu latar belakangnya. Ini juga menuai kritik dari aktivis dan komunitas adat.

2. Cornrows dan Gaya Rambut Afrika Lainnya

Gaya rambut seperti cornrows, dreadlocks, atau kepang Afrika memiliki sejarah panjang dan kaya dalam budaya Afrika dan diaspora Afrika sebagai ekspresi identitas, seni, dan bahkan penanda status sosial.

Contoh Kasus: Seringkali, desainer atau model kulit putih menampilkan gaya rambut ini di runway atau pemotretan, dan mereka dipuji sebagai "inovatif" atau "trendsetter." Ironisnya, orang-orang kulit hitam yang memakai gaya rambut yang sama seringkali menghadapi diskriminasi di sekolah atau tempat kerja karena dianggap "tidak profesional." Hal ini menunjukkan standar ganda dan minimnya pengakuan terhadap asal-usul gaya rambut tersebut.

3. Kimono Jepang dan Hanbok Korea

Kimono dari Jepang dan Hanbok dari Korea adalah pakaian tradisional dengan sejarah ratusan tahun, dipakai dalam acara-acara khusus dan memiliki aturan pemakaian yang ketat. Keduanya adalah bagian fundamental dari identitas budaya masing-masing negara.

Contoh Kasus: Di tahun 2019, Kim Kardashian mengajukan merek dagang untuk nama "Kimono" untuk lini shapewear miliknya. Ini langsung memicu protes global dari Jepang karena dianggap "merampas" nama pakaian tradisional mereka untuk tujuan komersial. Setelah gelombang kritik, Kim akhirnya mengubah nama mereknya menjadi Skims.

4. Penggunaan Simbol Religius/Spiritual

Beberapa simbol atau motif yang memiliki makna religius atau spiritual mendalam dalam suatu budaya seringkali diadaptasi ke dalam fashion tanpa rasa hormat.

Contoh Kasus: Beberapa merek fashion pernah dituduh mengambil motif atau pola dari tekstil suku asli tanpa izin atau kompensasi. Misalnya, motif dari suku Maya, Navajo, atau Dayak yang kaya akan cerita dan mitologi, tiba-tiba muncul di koleksi desainer tanpa pengakuan.

 

Bagaimana Cara Menghindari Cultural Appropriation?

Bagi desainer, merek, atau bahkan kita sebagai konsumen, ada beberapa langkah penting untuk menghindari appropriation dan lebih ke arah apresiasi:

1.    Riset Mendalam: Jangan cuma lihat visualnya, pelajari sejarah, makna, dan konteks budaya di balik elemen yang menginspirasi.

2.    Kolaborasi dan Konsultasi: Cara terbaik adalah bekerja sama dengan seniman, pengrajin, atau ahli budaya dari komunitas asli. Beri mereka ruang, pengakuan, dan kompensasi yang layak. Ini adalah cara paling etis untuk menghadirkan keragaman budaya.

3.    Berikan Kredit: Selalu sebutkan sumber inspirasi dan akui asal-usul budaya elemen yang digunakan.

4.    Tanya Diri Sendiri: Sebelum membeli atau memakai sesuatu yang terinspirasi dari budaya lain, tanyakan: "Apakah saya menghormati makna aslinya? Apakah ini menguntungkan komunitas aslinya? Atau hanya sekadar mengikuti tren?"

 

Intinya, dunia fashion memang selalu mencari inspirasi. Tapi, ada garis tipis antara inspirasi yang menghargai dan eksploitasi yang merugikan. Dengan kesadaran dan rasa hormat yang lebih besar, fashion bisa menjadi medium yang merayakan keindahan dan keragaman budaya dunia, bukan malah merampasnya.

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait