BahanKain.id
BahanKain.id

Kain Wool: Sejarah, Kelebihan Dan Kekurangannya

BahanKain
Kain Wool: Sejarah, Kelebihan Dan Kekurangannya

Wool dikenal sebagai salah satu jenis kain yang paling berharga di dunia fashion, Tak heran jika bahan ini kerap menjadi andalan dalam memproduksi beragam model busana. Terutama pakaian dan aksesoris untuk musim dingin hangat seperti turtle neck, sweater, hoodie, jas, blazer, sarung tangan, beanie har serta keperluan lain.

Meski lebih populer di negara-negara beriklim sub-tropis, busana berbahan kain wol tetap fleksibel untuk berbagai musim karena kemampuan penyesuaian termalnya. Yuk, mengenal lebih dekat mengenai sejarah perkembangan wool serta kelebihan dan kekurangannya!

Mengenal Kain Wol

Wool adalah serat alami yang diperoleh dari pengolahan bulu hewan. Ia termasuk kelompok protein yang dikenal sebagai keratin. Bahan dasar protein membuat sifat kimiawi serat wol berbeda dari kapas maupun serat tumbuhan lain, yang berbasis selulosa. Struktur fisik dan kimiawi wol yang sangat kompleks telah berevolusi selama jutaan tahun untuk melindungi domba dari cuaca ekstrem.

Serat wol memiliki komposisi heterogen yang terdiri dari asam amino dan gugus karboksil asam. Kombinasi tersebut bertanggung jawab atas sifat fleksibilitas, elastisitas, ketahanan dan sifat pemulihan kerut yang baik. Hal ini juga memungkinkannya penyerapan kelembapan dan bahan pewarna secara maksimal.

Sejarah dan Perkembangan Kain Wol


Sumber: https://www.gschneider.com/

Kain wool pertama kali ditemukan di sebuah rawa yang ada di Denmark, dan diperkirakan berasal dari tahun 1500 SM. Meskipun domba telah didomestikasi (dari hewan liar jadi peliharaan/budidaya) sejak 11.000 SM. Akan tetapi, pemanenan dan pengolahan serat wol baru terdeteksi sekitar 1900 SM, saat Inggris mengembangkan teknologi pemintalan dan pertenunan. 

Pemanfaatan kain wol sebagai bahan pakaian diprakarsai oleh bangsa Romawi pada tahun 50 M. Mereka mendirikan pusat produksi wol di kawasan yang sekarang bernama Winchester, Inggris. Selang 10 tahun kemudian, kain wol mulai mendominasi industri. Pameran wol di kota-kota di seluruh Eropa menjadikannya sebagai komoditas ekspor utama serta penggerak ekonomi Inggris dan Kerajaan Castile.

Perang dan invasi negara-negara tetangga membuat penenun wol berbakat pindah atau diperbudak. Penenun Flemish bermigrasi ke Inggris karena invasi Spanyol. Sedangkan penenun Yunani dikirim ke Italia secara paksa setelah wilayahnya dikuasai Norman. Hal itu memunculkan sentra baru produksi kain wol.

Babak baru peradaban ekonomi serat wol dimulai saat Kerajaan Inggris membangun peternakan domba di Australia. Dimana untuk pertama kalinya (setelah larangan ekspor domba dihapuskan), domba Merino dibiakkan secara selektif guna memproduksi wol terbaik. Hamparan lahan penggembalaan yang begitu luas membuat populasi domba di Australia meledak dalam beberapa dekade. Hingga akhirnyam negara ini didapuk sebagai ibukota wol dunia.

Produksi wol menjadi industri tekstil paling penting dari segi volume maupun nilai hingga penemuan serat sintetis di pertengahan abad ke-20. Kemunculan tekstil yang lebih murah, mudah dicuci, dan terasa lembut di kulit mengakibatkan penurunan produksi wol secara besar-besaran.

Industri wol di seluruh dunia mengalami penurunan hingga lebih dari 50% sejak tahun 1960. Salah satunya karena banyaknya alih fungsi lahan menjadi peternakan sapi dan penanaman kapas. Dengan serat yang lebih murah dan meningkatnya biaya dalam industri, wol bertransformasi menjadi bahan eksklusif untuk pasar barang mewah. 

Kelebihan dan kekurangan kain wol

1.       Halus dan lembut

Serat wol terkenal sangat halus, memungkinkannya melengkung secara dramatis dan terasa lembut saat bersentuhan dengan kulit.

2.       Elastis dan tidak mudah berkerut

Elastisitas alami serat wol membantu pakaian meregang saat digunakan, namun dapat kembali ke bentuk aslinya. Tiap helai serat wol seperti pegas melingkar yang akan mengalami restorasi setelah dilipat maupun ditekuk. Ini memberikan ketahanan baik baju wol terhadap kerutan atau kusut.

3.       Breathable

Serat dari bulu hewan ini dapat menyerap cairan dalam jumlah besar dan menguapkannya ke udara. Itulah kenapa pakaian wol tetap nyaman digunakan saat cuaca panas maupun dingin yang ekstrem.

4.       Termoregulasi

Tak seperti kain sintetis, wool adalah serat aktif yang bereaksi terhadap perubahan suhu tubuh. Sehingga pemakainya tetap merasa hangat ketika cuaca dingin dan sejuk saat cuaca panas.

5.       Anti-statis

Karena kemampuan menyerap cairan yang dimilikinya, serat wol cenderung tidak menciptakan listrik statis. Sehingga kecil kemungkinannya untuk melekat secara tidak nyaman pada tubuh dibandingkan kain sintetis serta bahan lain.

Kekurangan Kain Wol

1.       Terasa berat

Karena kemampuannya menyerap air cukup tinggi, wol bisa menjadi berat ketika basah dan butuh waktu lama untuk mengeringkannya. Selain cepat bereaksi pada cairan, wool juga mudah menyerap bau. Sehinggga harus disimpan di tempat yang kering dan bersih.

2.       Rentan susut

Wol sangat rentan terhadap penyusutan, terutama jika dicuci menggunakan air panas atau mesin cuci. Perputaran dan suhu panas menyebabkan serat saling mengunci dan mengecil (disebut felting).

3.       Butuh Perawatan Khusus

Wol tidak bisa dicuci sembarangan. Penggunaan deterjen biasa atau mesin cuci bisa merusak strukturnya. Sehingga kain wol harus dicuci manual menggunakan deterjen berformulasi lembut atau dry clean.

Serat wool juga juga tidak tahan terhadap sinar matahari langsung dalam waktu lama karena bisa membuat warnanya memudar dan serat menjadi rapuh.

4.       Harga Relatif Mahal

Di pasaran, harga benang, kain, ataupun pakaian berbahan dasar wool cenderung lebih mahal. Terutama jenis wol berkualitas tinggi seperti merino atau cashmere (kashmir).

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait