BahanKain.id
BahanKain.id

Mekanisme Pewarnaan Kain Denim Dengan Zat Warna Indigo

BahanKain
Mekanisme Pewarnaan Kain Denim Dengan Zat Warna Indigo

Denim adalah jenis kain yang paling digemari karena daya tahan tampilan tak lekang oleh waktu. Berbahan dasar serat katun dengan karakter warna indigo dan titik-titik putih yang khas. erasal dari penggunaan benang warna untuk lusi (pembentuk panjang) dan benang polos sebagai benang pakan (pembentuk lebar). Benang tersebut ditenun menggunakan jenis anyaman keper (twill) 3/1 sehingga menghasilkan pola diagonal di salah satu sisinya.  

Kain denim secara tradisional diwarnani menggunakan jenis pewarna indigo yang membuat tampilannya begitu khas. Warna ini digunakan secara eksklusif untuk menghasilkan corak biru cemerlang dengan efek pencucian yang diinginkan.

Proses Pewarnaan Denim Dengan Pewarna Indigo

Dalam mekanisme pewarnaan denim, pH merupakan parameter paling penting untuk mencapai efek pewarnaan yang diinginkan. Namun karena sifat penetrasi parsial serat katun, indigo hanya mampu mewarnai permukaannya sedangkan lapisan dalamnya tetap tidak berwarna. Intensitas warnanya juga bisa memudar dan tergores. Beberapa metode pencucian dan finishing memungkinkan warna kain ini mencapai tampilan usang yang lebih menarik. 

Indigo tetap populer dalam pewarnaan kain denim meskipun ada banyak variasi warna biru lain. Itu tak lepas dari kemampuan baiknya untuk menghasilkan efek pencucian berulang tanpa menghilangkan kesan segarnya. Berikut beberapa teknik yang umum digunakan dalam pewarnaan kain denim denagan pewarna indigo.

1.       Chain / rope dye (pewarnaan tali)

Rope dye alias pewarnaan tali adalah metode pewarnaan tradisional yang cukup kompleks. Dilakukan dengan memilin 12 hingga 16 benang katun menjadi struktur seperti tali lalu dilewatkan serangkaian tong pewarna nila. Tong pertama berisi larutan pewarna nila berviskositas rendah, dan semakin meningkat di tong-tong berikutnya. Proses tersebut mempertahankan perubahan warna unik yang khas, lebih pekat dan gelap.


Sumber: https://elements.envato.com/

Pewarnaan tali menggunakan mesin ball warping untuk menarik benang dari creel, lalu dilewatkan sisir dan batang khusus guna memastikan keakuratannya. Ujung bendang digabungkan menjadi satu bundel dan dikirim melalui rakitan tabung kondensor yang membentuk tali dengan 350-400 helai benang yang dililitkan pada beam.

Balok diturunkan dan diletakkan pada creel rentang pewarna setelah dililitkan sepenuhnya. Tali diwarnai dengan melewatkannya melalui bak pra-perlakuan, kemudian beberapa kali pencelupan, pengepresan dan penyinaran.

Kelebihan rope dye:

·         Hasil pewarnaan lebih rata tanpa variasi bayangan silang

·         Produktivitas tinggi dan efisiensi dalam produksi

·         Penggunaan agen pereduksi yang lebih sedikit

·         Tidak ada pemborosan waktu selama pergantian lot

·         Fleksibilitas produksi denim

Kekurangan chain dye:

·         Biaya pengadaan awal dan produksi tergolong tinggi

·         Waktu perendaman dan oksidasi jauh lebih lama

·         Perlu perlakuan tambahan membuka tali setelah pewarnaan

·         Kurang fleksibel dan terbatas untuk pewarnaan indigo dan kurang fleksibel.

2.       Slasher dye (pewarnaan lusi terbuka)

Berikutnya ada pewarnaan slasher, yaitu metode pewarnaan otomatis yang umum digunakan dalam produksi denim. Pewarnaan oblique cutting, benang dialirkan serangkaian rol kemudian dicelupkan ke larutan pewarna indigo. Intensitas warna bisa dikendalikan dengan menambah atau menguangi jumlah bak serta speed celup. Makin banyak dan semakin lambat kecepatan pewarnaan, semakin gelap warna akhir kain denim.


Sumber: https://textilelearner.net/

Pewarnaan slasher melibatkan pre-treatment tiap helai benang, diikuti pewarnaan indigo multi-celup. Penanganan lusi sangat sedikit karena benang lusi langsung diproses dan diangkut ke departemen penenunan. Mekanismenya dimulai dari pencucian, pengeringan, sizing, dan pengeringan akhir.

Kelebihan slasher dye:

·         Desainnya kompak dan tidak memakan banyak ruang

·         Waktu oksidasi dan perendaman lebih singkat

·         Cocok untuk memproses denim ringan

·         Biaya produksi tergolong rendah

·         Bisa memproses banyak warna

·         Memungkinkan produksi dalam jumlah kecil

Kekurangan slasher dye:

·         Kemungkinan warna silang, tidak rata dan putus benang

·         Produktivitasnya terbatas

·         Kualitas warnanya lebih rendah dibandingkan pewarnaan tali

3.       Loop Dye (pewarnaan lubang)

Mirip pewarnaan slasher, tapi mekanisme loop dye hanya menggunakan satu bak pewarna. Disini, benang dialirkan melalui tong berwarna indigo untuk menghasilkan warna yang lebih konsisten dan butuh lebih sedikit ruang daripada metode pewarnaan lain.

Loop dye hanya digunakan pada benang lusi, setelah momen pencelupan, udara dioksidasi. Lembaran lungsin berputar dalam bentuk sirkuit tertutup, seperti loop. Karena penurunan yang signifikan dalam konsentrasi pewarna dan kimia setelah setiap pencelupan, penguatan segera pada wadah sangat penting untuk mendapatkan hasil yang sesuai.

Keuntungan loop dye:

·         Dengan sistem yang terbilang sederhana, proses ini hanya membutuhkan sedikit ruang

·         Biaya modal, konsumsi air, warna dan bahan kimia terbilang sedikit

·         Biaya perawatan dan energinya pun tergolong rendah

Kekurangan loop dye:

·         Terdapat ketidakrataaan warna dan kemungkinan putusnya benang

·         Butuh waktu lama untuk pergantian mekanisme

·         Produktivitasnya rendan dan kurang fleksibel

Itu dia beberapa metode pencelupan denim menggunakan pewarna Indigo. Meskipun daya afinitasya terhadap serat katun tergolong rendah, kain dehim tidak dapat diwarnai menggunakan prosedur bejana tradisional. Setidaknya 95% produksi denim dunia dilakukan dengan pewarnaan tali dan slasher.

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait