7 Perbedaan Kain Songket dan Tenun Ikat

Selain batik, kain songket dan tenun ikat adalah jenis kain tradisional Indonesia yang bernilai seni tinggi, kaya akan motif dan makna filosofis. Meski sama-sama dari keluarga kain tenun dan dibuat menggunakan peralatan tenun bukan mesin (ATBM), dua wastra ini mempunyai beragam perbedaan.
Bukan hanya nama dan coraknya saja, tetapi juga metode pembuatan, karakteristik, serta beragam faktor lain.
Perbedaan Kain Songket Dan Tenun Ikat
Keunikan kain songket dan tenun ikat merepresentasikan betapa indah serta kayanya budaya Nusantara. Keduanya memang berbeda dari banyak sisi. Songket terkenal karena kemewahan dari perpaduan benang emas atau perah yang memancarkan kesan elegan dan agung. Sementara tenun ikat menawarkan keindahan dalam bingkisan sederhana namun tetap mempesona.

Selain itu, berikut beberapa faktor yang membedakan antara kain tenun ikat dan kain songket
1. Bahan baku
Perbedaan paling mendasar antara kain tenun ikat dan songket terletak pada material utamanya yaitu benang. Pada kain songket, benang yang digunakan lebih bervariasi dan seringkali mengkombinasikan beberapa jenis benang seperti katun, perak dan emas. Variasi benang tersebut berguna sebagai pembentuk motif kain.
Lain halnya dengan kain tenun ikat yang hanya menggunakan benang kapas atau sutera. Kemudian benang tersebut diikat dan diwarna untuk menciptakan motifnya.
2. Alat yang digunakan
\
Faktor kedua yang membuat kain songket dan tenun ikat berbeda adalah teknik pembuatannya. Di habitatnya, kain songket masih dibuat menggunakan peralatan tradisional dari kayu. Setiap alur prosesnya dikerjakan secara manual, mulai dari pemintalan benang sampai menjadi lembaran kain utuh. Pengerjaan kain songket mengandalkan alat tenun tangan yang dikenal dengan sebutan cakcak, sesek atau dayan.
Sedangkan pembuatan kain tenun ikat memakai alat tenun yang lebih modern. Dimana rancangan dan mekanisme kerja alat tersebut sudah menggunakan prinsip-prinsip mesin tenun yang ada saat ini. Hal itu terlihat jelas pada proses penyisipan benang pakan yang sudah menggunakan peralatan mekanis dengan menggerakan kaki dan tangan secara bersamaan.
3. Teknik pembuatan
Kain tenun ikat dibuat dengan mengikat benang lusi atau benang pakan sebelum diwarnai. Teknik pewarnaan itulah yang menciptakan corak pada selembar kain tenun ikat. Dibandingkan songket, proses pembuatan kain ini jauh lebih sederhana karena hanya menggunakan satu jenis benang. Namun, tiap helainya bisa mempunyai dua warna atau lebih tergantung proses celup.

Disisi lain, benang pakan (arah lebar) dan benang lusi (arah panjang) untuk membuat kain songket umumnya berbeda jenis serta warna. Corak pada kain songket terbentuk dari modifikasi anyaman pada benang pakan (pembentuk lebar kain). Mekanisme tersebut menghasilkan motif berdetail timbul yang unik dan tidak mungkin luntur.
4. Motif kain
Motif adalah cara paling sederhana untuk mengenali mana yang kain songket dan mana kain tenun ikat. Karena pola motif pada kain tenun ikat bisa dilihat dari dua sisi sekaligus, sedangkan motif kain songket hanya terlihat di satu sisi saja.
Permukaan bermotif pada tenun ikat juga rata dan terasa halus ketika disentuh, mengingat coraknya diperoleh dari proses pewarnaan benang. Lain halnya dengan kain songket yang detail motifnya akan berasa saat disentuh karena merupakan hasil anyaman benang yang berbeda warna.
5. Tampilan
Motif kain tenun ikat lebih geometris atau abstrak. Warnanya jauh lebih bervariasi tapi tampilannya cenderung doff atau matte. Sehingga menciptakan kesan yang lebih tradisional dan kasual. Kerajinan tenun ikat banyak ditemukan di wilayah Bali, NTB (Nusa Tenggara Barat) dan NTT (Nusa Tenggara Timur).
Kain songket mempunyai tampilan mewah berkat selipan benang emas, perak, atau benang warna cerah. Motif tradisional yang rumit dan berkilauan menciptakan kesan elegan. Cocok digunakan untuk acara formal atau adat. Songket banyak ditemukan di wilayah Sumatera, khususnya dari Palembang dan Minangkabau.
6. Durasi pembuatan
Penggunaan teknik dan alat tenun yang berbeda berdampak pada durasi waktu pengerjaannya. Dalam hal ini, proses pembuatan kain songket cenderung lebih lama karena peralatannya sangat tradisional. Belum lagi pembentukan ragam corak songket yang bisa menyita waktu hingga satu minggu bahkan hingga berbulan-bulan lamanya.
7. Harga jual
Detail anyaman yang rumit dan lamanya waktu pengerjaan membuat harga tiap lembar kain songket jauh lebih mahal banding tenun ikat. Satu lembar kain songket bisa dihargai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Beda dengan tenun ikat yang harganya mulai dari puluhan ribu saja, tergantung ukuran dan bahan bakunya.
Itulah beberapa hal yang membedakan antara kain tenun ikat dan kain songket. Terbukti, walaupun sama-sama ditenun secara tradisional, kedua wastra ini punya ciri khas masing-masing. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuanmu, ya!
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!



