BahanKain.id
BahanKain.id

Jenis Tumbuhan Untuk Pewarna Alami Dalam Industri Batik Natural Dyes (Bagian 4)

BahanKain
Jenis Tumbuhan Untuk Pewarna Alami Dalam Industri Batik Natural Dyes (Bagian 4)

Sebagai salah satu warisan budaya Nusantara yang diakui dunia, batik tak hanya menawarkan keindahan motif, tetapi juga menyiratkan nilai-nilai kehidupan. Salah satu aspek yang tak kalah menarik dari batik adalah penggunaan bahan pewarna alami dari berbagai jenis tumbuhan.

Selain murah dan ramah lingkungan, pemanfaatan tumbuhan sebagai pewarna kain batik juga menghasilkan warna yang lebih kaya dan unik. Memberikan keindahan yang tak bisa ditemukan pada pewarna sintetis. Sebelumnya, kita sudah membahas 20 tumbuhan yang sering digunakan sebagai pewarna alami dalam proses pembuatan batik.

Jenis Tumbuhan Untuk Pewarnaan Kain Batik

Sebagai negara yang beriklim tropis, tanah Indonesia menjadi tempat hidup ideal untuk beragam jenis fauna. Sehingga penggunaan tumbuhan sebagai pewarna alami untuk batik adalah tradisi yang patut dilestarikan. Setiap warna yang dihasilkan dari daun, akar, atau buah tumbuhan menciptakan keindahan alami yang menggambarkan keselarasan.

Berikut 10 tumbuhan yang juga kerap digunakan sebagai pewarna kain batik:

21.   Daun Mimba


Mimba adalah jenis tumbuhan yang mempunyai rasa pahit (daging buahnya manis) dan bersifat netral. Tanaman dengan ciri khas daun memanjang dan sedikit bergerigi ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna dalam industri batik. Daun mimba dapat menghasilkan warna kuning yang cukup pekat.

Daun mimba telah banyak dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional untuk berbagai kondisi. Termasuk mengobati luka, jerawat, dan berbagai penyakit kulit.

22.   Kulit kayu nangka

Tumbuhan yang buahnya bisa dimasak atau langsung dimakan setelah masak ini juga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami batik. Terutama bagian kulit kayunya.

Pohon ini juga cukup serbaguna. Akarnya bisa diolah menjdi obat demam, sedangkan kayu dan kulit pohonnya yang berwarna coklat dapat menghasilkan zat pewarna untuk makanan atau kain katun berwarna kuning. Warna tersebut dapat diekstrak dengan cara merebus katu dengan campuran alkohol. Di sisi lain, getah pohon nangka juga bisa menghasilkan pewarna kinong mengkilat.

23.   Bunga pagoda


Bunga pagoda merupakan tumbuhan perdu dengan bunga merah kecil-kecil yang tersusun dalam tandan berbentuk kerucut (pagoda). Bagian bunganya memiliki rasa manis dan bersifat hangat.

Sebenarnya bunga ini belum umum digunakan sebagai pewarna alami untuk batik. Namun, tumbuhan ini memang memiliki pigmen warna merah muda yang bisa diekstraksi dari kelopak bunganya. Artinya, ada potensi bunga ini untuk digunakan dalam pewarnaan kain, termasuk batik.

24.   Daun papaya


Selain terkenal sebagai bahan jamu ‘cekok’, daun papaya memiliki pigmen hijau yang dapat digunakan sebagai zat warna alami pada kain batik, lho. Menghasilkan pewarna hijau kekuningan yang khas.

Meskipun warna hijau dari daun ini tidak terlalu pekat dan kurang tahan luntur, namun hal tersebut bisa diatasi dengan proses fiksasi atau mordanting. Proses ekstraksinya dapat dilakukan melalui proses perebusan.

25.   Daun puring


Puring termasuk jenis tanaman perdu yang mempunyai daun warna-warni. Daun tersebut bisa diekstrak untuk mendapatkan warna hijau kekuningan (olive) dan dimanfaatkan sebagai pewarna tekstil.

Perlu diketahui bahwa daun ini mampunyai rasa pahit, bersifat dingin dan mengandung racun. Akar dan kulit batangnya berasa pedas, sedangkan getahnya mengandung tannin.

26.   Bunga rosela


Bunga osella mempunyai ciri khas warna merah pekat dan rasa asam di bagian kelopak bunganya. Kelopak rosella dapat dikeringkan lalu diseduh untuk membuat sirup warna kemerahan dan rasanya kecut. Bunga dengan nama latin Hibiscus sabdariffa L. ini mengandung antosianin, yaitu jenis senyawa flavonoid yang menghasilkan zat warna kuning pucat.

Tanaman rosella dapat tumbuh dengan baik di daerah beriklim tropis dan subtropics. Selain pewarna batik, serat kulit batang rosella juga bisa diolah menjadi serat goni. Namun prosesnya sangat sulit dan butuh biaya tinggi.

27.   Daun salam


Syzygium polyanthum alias daun salam merupakan salah satu penghasil zat warna cream, kuning atau kehitaman sehingga kerap dimanfaatkan dalam proses pecelupan warna kain batik. Bahan dapur beraroma khas ini dapat diekstrak untuk mendapatkan warna yang lebih pekat.

Penyedap masakan ini mengandung tannin, flavonoid, eugenol, dan minyak asisi. Memiliki sifat rasa kelat, wangi serta memperbaiki sirkulasi.

28.   Kulit Kayu Secang


Sejak jaman dulu, kulit kayu secang sangat populer dalam industri pewarnaan alami kain batik. Tumbuhan dengan nama latin Caesalpinia sappan L ini menghasilkan warna merah pucat, merah muda atau ungu pekat tergantung jenis kain dan bahan fiksasinya.

Seduhan kayu secang menghasilkan warna merah gading muda tapi kalau dicampur tawas, warnanya seperti meekrap. Selain bahan pewarna batik, secang juga bisa dimanfaatkan sebagai pewarna makanan serta obat untuk menyembuhkan memar.

21.   Kayu Tegeran

Di industry tekstil, teger atau tegeran dikenal sebagai tanaman yang kayu dan kulit batangnya digunakan sebagai sumber zat warna alami kuning cerah hingga keemasan.  Pohon dengan nama latin Cudrania javanensis ini populer di Indonesia sebagai bahan pewarna alami, terutama sebagai dasr warna soga atau coklat batik klasik dan ecoprint. Ia bisa menghasilkan warna kuning cerah hingga cokelat kemerahan atau hijau, tergantung zat fiksasi yang digunakan. 

Itu dia beberapa tanaman penghasil zat warna alami yang banyak dimanfaatkan pembatik jaman dahulu. Cuma itu aja? Nggak dong, Indonesia masih punya beragam jenis flora sumber pewarna alami untuk industri batik. Nantikan artikel kami selanjutnya ya, Sobat! 

Nah, kalau Sobat Bahankain pengen bereksplorasi dengan pewarna alam, Sobat bisa membelinya di BahanKain.id, lho. Tak perlu jauh-jauh ke hutan atau menunggunya mengering, langsung pesan bahan warna yang kamu butuhkan dan tunggu paketnya di rumah. 


Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait