BahanKain.id
BahanKain.id

6 Perbedaan Batik Pedalaman Dan Batik Pesisiran

BahanKain
6 Perbedaan Batik Pedalaman Dan Batik Pesisiran

Sempat ramai gara-gara seseorang memberi baju batik pada Ishowspeed dan mengatakan bahwa batik berasal dari Malaysia. Padahal, batik jelas-jelas sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda milik Indonesia.

Batik mempunyai banyak corak dan jenis, umumnya bisa dibedakan berdasarkan tata warna, motif, dan filosofinya. Namun secara garis besar, batik dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar yaitu batik pedalaman dan batik pesisiran. 

Dan sangat disayangkan ketika melihat fakta bahwa banyak orang Indonesia bingung ketika ditanya, ‘apa sih bedanya batik pedalaman dan batik pesisiran?’. Hal itu karena gambaran ‘kain batik’ dalam benak masyarakat Indonesia hanyalah lembaran kain yang motifnya didapat dari menorehkan malam (lilin batik). Bisa menggunakan canting tulis (batik tulis) dan canting cap (batik cap).

Padahal ada dua gaya desain yang dibedakan berdasarkan keragaman tata warna, motif dan filosofisnya yaitu batik pesisir dan batik pedalaman atau batik klasik. Nah, berikut beberapa perbedaan batik pesisir dan batik pedalaman yang perlu kamu tahu!

Perbedaan Batik Pedalaman dan Batik Pesisiran

Perbedaan paling mendasar antara dua jenis batik ini terlihat pada pengertiananya. Batik pedalaman dikenal juga batik klasik adalah batik yang motif dan cara pembuatannya masih berpedoman pada aturan atau pakem. Beda dengan batik pesisiran yang merupakan jenis batik yang proses pembuatannya lebih bebas, tidak terikat pada pakem apapun.

Selain itu, berikut beberapa hal yang membedakan antara batik pedalaman dan batik pesisiran:

1.       Dari wilayah yang berbeda

Batik pedalaman dibuat oleh para pembatik dari pulau Jawa seperti Solo dan Yogyakarta. Awalnya, batik ini hanya dikenakan oleh kaum bangsawan yang tinggal di lingkungan keraton. Sehingga kerap disebut sebagai batik keraton.


Sesuai namanya, batik ini berkembang di daerah-daerah pesisiran di luar Yogyakarta dan Solo seperti halnya Cierbon, Indramayu, Pekalongan, Pemalang, dan Rembang. Disini pengrajin bebas menuangkan ide-ide kreatif sehingga motif dan warnanya lebih variatif. Jangkauan pasarnya pun lebih luas.

2.       Sejarah dan nilai filosofisnya

Perbedaan batik pesisiran dan batik pedalaman juga bisa dilihat dari segi sejarah serta nilai-nilai filosofisnya. Batik pedalaman tumbuh dan berkembang atas dasar filsafat kebudayaan Jawa yang mengacu pada nilai-nilai spiritual. Terdapat harmonisasi antara alam semesta yang tertib, serasi dan seimbang sehingga sifatnya sangat tradisional dan melokal.


Sumber: https://www.youtube.com/

Di sisi lain, batik pesisiran mendapat pengaruh budaya Cina, India serta kepercayaan Hindu dan Buddha. Akulturasi tersebut menjadi landasan utama gaya dan motif batik pesisiran yang jauh berbeda dari batik pedalaman.

3.       Identitas pembatik

Pada batik pedalaman, pembatik hanya bisa dijumpai di lingkungan keraton dan nggak sembarang orang bisa melakukan proses pembatikan yang melibatkan ritual-ritual tertentu. Memproses batik keraton diibaratkan sebagai ibadah, suatu aktivitas seni tinggi yang patuh pada aturan serta arahan aristokrat Jawa. Istilah-istilah batik pun mulai dikenal sejak zaman ini dan hampir semuanya menggunakan bahasa Jawa.


Sumber: https://id.m.wikipedia.org/

Berbeda dengan para pembatik di daerah pesisir yang merupakan rakyat jelata. Membatik bagi mereka adalah pekerjaan sambilan yang bebas aturan, tanpa patokan teknis dan religio-magis. Para pembatik pesisir lebih menyukai cara-cara yang bisa mengeksplorasi batik seluas-luasnya.

4.       Motif

Setiap motif yang terukir pada kain batik pedalaman menyimpan makna filosofi tersendiri. Ragam hiasnya ciptakan pun bernuansa kontemplatif dengan motif-motif geometris. Akibat pengaruh budaya Jawa-Hindu, seperti ornamen candi yang ada di daerah Yogyakarta dan Surakarta. Sedangkan corak-corak hewan hanya digambarkan bagian tertentu tidak ditorehkan secara utuh

Sedangkan motif pada batik pesisiran umumnya lebih bebas, spontan, dan kasar cenderung imajinatif dan terlihat abstrak. Biasanya terinspirasi flora dan fauna yang digambarkan secara lengkap, seperti bunga atau kupu-kupu dengan kepala dan kaki. Maknanya sesuai budaya dari masing-masing daerah.

5.       Warna

Batik pedalaman umumnya menggunakan tiga warna dasar yaitu indigo blue/wedelan (biru gelap), soga (cokelat seperti pohon soga), dan putih atau putih kecokelatan (cream). Penggunaan warna-warna alam yang kalem dan nggak mencolok sudah menjadi suatu keunikan tersendiri dalam pembuatan batik pedalaman.

Pada batik pesisiran, warna-warna yang digunakan mengikuti selera masyarakat luas yang bersifat dinamis dan cerah seperti merah, biru, hijau, kuning, bahkan ada pula yang oranye, ungu, dan warna-warna muda lainnya.

6.       Cara menggunakan

Batik pedalaman umumnya dikenakan sebagai nyamping atau jarit (kain batik panjang) untuk acara resmi yang tetap mempertahankan ukuran aslinya sekitar 2,5 x 1,1 meter. Penggunaannya bisa diwiru atau bisa juga digunakan untuk kemben. Meski terkadang kita menemukan batik pedalaman yang dijahit sebagai pakaian, namun penggunaannya lebih untuk acara pernikahan atau acara resmi lainnya.

Sedangkan penggunaan pada batik pesisiran lebih sebagai model pakaian dan busana modern. Dengan variasi yang begitu banyak seperti gamis, dress, sampai pakaian model terbaru yang menggunakan motif batik.

Itu dia beberapa hal yang membedakan antara batik klasik dan pesisiran. Intinya, cara paling mudah untuk mengidentifitkasi apakah itu batik pedalaman dan batik pesisir adalah melihat variasi warna. Kalau kombinasi warnanya cenderung gelap, bisa dipastikan kalau itu batik pedalaman. Namun jika didominasi warna-warna cerah dan terang, berarti itu adalah batik pesisiran. 

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait