Keistimewaan Lipa Sabbe, Sarung Tenun Sutera Khas Sulawesi Selatan

Lipa sabbe adalah sarung khas suku Bugis, Sulawesi Selatan. Kain ini terkenal hingga ke kancah internasional karena memiliki corak khas serta karakteristik kain yang halus dan lembut. Kain Lipa Sabbe bisa dipakai oleh kaum laki-laki maupun wanita Bugis di acara pernikahan, aqiqah hingga acara keagamaan.
Pria bugis biasanya memakai Lipa Sabbe bersama atasan jas tutup dan songkok recca'. Sedangkan wanita memadukannya dengan atasan khas Bugis yaitu baju Bodo. Lipa' sabbe pun dianggap sebagai kain istimewa yang mempunyai nilai-nilai tersendiri dalam masyarakat Bugis.
Lantas, apa yang membuat sarung ini bergitu istimewa? Simak faktanya berikut ini, yuk!
1. Sejarah Sarung Lipa Sabbe
Lipa sabbe menyimpan kisah panjang serta makan budaya yang mendalam, khususnya di daerah Bone, Wajo dan Soppeng. Dari namanya saja sudah menggambarkan seberapa istimewanya kain ini. Dalam bahasa Bugis, istilah “Lipa’” berarti sarung sedangkan “Sabbe” artinya sutra. Yaps, sarung ini memang dibuat dari benang sutra, sang ratunya serat tekstil yang terkenal akan kilau indahnya.

Sarung tradisional khas masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan ini mencerminkan kearifan lokal suku Bugis. Dimana setiap motifnya tersimpan makna yang mendalam.
Sejarah lipa' sabbe dimulai sejak masa kerajaan Bugis sebagai penanda status sosial seseorang. Sehingga lebih sering digunakan untuk kaum bangsawan dan tokoh-tokoh penting kerajaan. Namun seiring berjalannya waktu dan pupularitasnya, lipa' sabbe kian merakyat dan bebas digunakan oleh siapapun dari kalangan masyarakat Bugis. Lipa sabbe pun menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
2. Motif Lipa Sabbe dan masing-masing maknanya
Selain kilau permukaan kainnya, kain lipa sabbe juga begitu istimewa karena corak unik dan maknanya yang mendalam. Penggunaannya tidak boleh sembarangan dan harus disesuaikan dengan arti dari setiap motifnya.
Berikut beberapa motif sarung lipa sabbe beserta maknanya:
· Motif Balo Renni, berupa garis vertikal dan horizontal membentuk kotak-kotak kecil dengan warna lembut. Diperuntukkan bagi wanita Bugis yang belum menikah.
· Motif Balo Lobang, dengan corak kotak-kotak besar dan warna lembut yang tegas. Dipakai oleh laki-laki Bugis yang belum menikah.
· Motif Bombang, berupa deretan corak segitiga sama sisi yang berjejer atau zigzag. Sifatnya netral, menggambarkan jiwa pelaut masyarakat Bugis.
· Motif Cobo’ hampir mirip Bombang, tapi menggunakan segitiga sama kaki. Biasanya dipakai saat acara lamaran sebagai tanda keteguhan hati pria.
· Motif Balo Tettong yaitu garis lurus vertikal atau horizontal yang menggambarkan keteguhan dan ketenangan.
· Motif Makkalu, bercorak garis-garis, horizontal, atau melingkar. Maknanya sering dihubungkan dengan ketekunan dan kerja keras.
· Terakhir ada Moppang, motif lipa sabbe tertua yang hampir punah. Dulunya sarung bugis bercorak ini hanya digunakan oleh pasangan suami istri, terutama saat atau setelah berhubungan. Sangat tabu untuk dikenakan di luar kamar oleh pria maupun wanita bugis.
3. Warna lipa’ sabbe
Selain motif yang kaya makna, warna-warna lipa sabbe juga memiliki arti tersendiri, lho. Makna warna tersebut seringkali berkaitan dengan status sosial pemakainya.
Seperti halnya, warna merah atau hijau yang biasa dipakai oleh kaum ningrat atau bangsawan. Merah sebagai simbol keberanian dan kekuasaan, hijau menjadi lambang kemakmuran dan kehidupan. Sarung berwarna lembut seperti pink atau kuning muda melambangkan kepolosan dan keceriaan masa muda sehingga kerap dipakai oleh gadis remaja.
Sedangkan warna hitam khusus dipergunakan bagi wanita yang sudah menikah, melambangkan ketenangan, kedewasaan, dan kehormatan. Sedangkan warna putih melambangkan kesucian dan kebijaksanaan, sering dipakai oleh pengasuh atau orang penting di lingkungan kerajaan.
4. Pusat produksi lipa’ sabbe di Sulawesi Selatan
Kalau kamu penasaran dengan proses pembuatan sarung ini, detanglah ke pusat produksi lipa sabbe yang ada di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Selain dikenal sebagai sentra penghasil kain sutra tradisional, Kota sengkang juga menjadi rumah produks Lipa' Sabbe yang masih dilakukan secara konvensional.
Proses pembuatan lipa’ sabbe mulai dari budidaya ulat sutra, berlanjut ke pengolahan benang, dan penenunan kain. Salah satu alasan yang membuat sarung sabbe begitu istimewa adalah kenyataan bahwa kain ini dibuat oleh tangan terampil para pengrajin lokal yang keahliannya diwariskan secara turun-temurun.
Mayoritas pengrajin di sana menenun kain sutra di rumah-rumah mereka menggunakan alat tenun tradisional. Lalu kainnya dijual ke pasar lokal, beberapa orang juga memesan untuk acara-acara khusus.
5. Cara memakai lipa sabbe
Pemakaian Lipa Sabbe bagi kaum pria dalam tradisi Bugis disebut dengan ma’bida, dimana sarung dipakai lalu bagian pinggang dililitkan dan ujungnya diikat (dirippung). Kemudian dikenakan tali benang sebagai ikat pinggang atau sabuk yang biasanya juga menjadi tempat menyelipkan keris.
Sementara wanita penggunaan Lipa Sabbe untuk wanita dilakukan dengan mengikatnya tepat di bagian pinggang dan sisanya dibiarkan terurai. Bagian sarung yang terurai dihamparkan di atas lengan kiri sambil dirapatkan di pinggang (dikikking) agar tidak jatuh.
Tahun 2016 menjadi awal sejarah baru kain tenun Lipa Sabbe setelah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Hal tersebut dilakukan bukan semata-mata karena pesona serta keindahan kainnya, tetapi juga langkah untuk melestarikan budaya tanah Bugis.
Itu dia sejarah, ragam motif serta makna filosofis sarung lipa sabbe khas Sulawesi Selatan. Keindahan motif, warna, serta kerumitan proses pembuatan yang rumit membuat Lipa' Sabbe patut dibanggakan dan dilestarikan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!



