BahanKain.id
BahanKain.id

Mengenal Chintz, Kain India Yang Sempat Jadi 'Buronan' Kaum Bangsawan

BahanKain
Mengenal Chintz, Kain India Yang Sempat Jadi 'Buronan' Kaum Bangsawan

Chintz adalah jenis kain katun yang dibuat dengan anyaman polos dan memiliki karakteristik ringan. Umumnya bermotif floral dengan warna dasar cerah dan bold, digunakan dalam pembuatan drapery, perlengkapan tidur, taplak meja serta kain pelapis furniture.

Permukaannya terlihat mengkilap karena diberi lapisan khusus bernama glazur untuk meningkatkan ketahanan serta durabilitasnya. Kain yang berasal dari India ini kerap mendominasi interior design mode barat dan sempat jadi ‘buronan’ para bangsawan Eropa.

Yuk, simak ulasan sejarah, karakteristik serta proses pembuatan kain chintz berikut ini!

Sejarah Singkat Kain Chintz

Secara tradisional, chintz merupakan jenis kain blacu yang dicat, diwarnai atau diglasir menggunakan balok kayu. Kain ini pertama kali ditemukan di Golconda (Hyderabad, India) pada abad ke-16 dan kerap digunakan sebagau penutup tempat tidur, selimut dan gorden. Chintz identik dengan motif bunga dan geometris yang dikemas dalam beragam warna. Latarnya cenderung polos dan bernuansa terang.


Sumber: https://www.artrabbit.com/

Kata chintz sendiri berasal dari bahasa Hindi, ‘chint’ yang artinya “berbintik” atau ” beraneka ragam”. Istilah ini seringkali digunakan untuk menyebut gaya hiasan bunga yang dikembangkan pada tekstil belacu.

Kain chintz diperdagangkan melintasi Samudera Hindia sejak abad ke dalam bentuk kain lukis (kalamkari) atau kain cetak. Kain yang dulu sangat digemari ini awalnya ditenun dari bahan katun yang sudah dicetak dan diglasi. Chintz pertama kali dibawa ke Eropa pada abad ke-17 oleh pedagang Belanda dan Portugis lalu begitu cepatnya tersebar ke seluruh benua.

Anggota bangsawan di Perancis dan Inggris dibuat takjub ketika melihat warna cerah pada kain chintz untuk pertama kalinya. Hingga memasuki paruh kedua abad ke-17, popularitas kain chintz telah jauh menggapai puncaknya. Sehingga pemerintah Prancis dan Inggris terpaksa melarang penggunaan kain tersebut guna menyelamatkan pabrik tekstil di negara mereka.

Menurut legenda urban, raja Versailles dan para bangsawannya memilih untuk menentang larangan chintz. Mereka secara gambling menggunakan chints sebagai penutup alat-alat rumah tangga dan memodifikasinya jadi pakaian istana di Versailles.

Belanda, Inggris, dan Prancis adalah produsen awal kain chintz imitasi pada akhir abad ke 17, sering kali menggunakan kain katun polos yang diimpor oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda. Kain tersebut diekspor ke Amerika Utara dan Eropa serta koloni Portugis seperti Brazil dan Filipina.

Perusahaan ini menjual kain Guinea (kain katun sederhana bergaris) di dalam dan sekitar Indonesia saat ini melalui jalur perdagangan yang sudah ada antara India bagian selatan dan Asia Tenggara, sambil mengekspor kain chintz yang lebih mahal ke Belanda untuk dijual di Eropa.

Karakteristik Kain Chintz

Ciri khas kain chintz terletak corak bunga yang dicetak atau dicat berwarna cerah dan tahan lama. Hal ini terutama disebabkan oleh pewarna alami seperti chay dan nila, serta teknik yang dijaga ketat oleh para pencelup India. Desain bunga yang cerah dianggap sebagai hasil patronase Mughal serta kesultanan yang lebih kecil di India selatan, karena desain serupa pada miniatur dan arsitektur Mughal.

Sebagai alternatif, tekstil untuk pasar Eropa ditandai dengan latar belakang terang yang menampilkan gambar bunga yang rumit atau pola asimetris dan naratif yang lebih besar. Motif yang populer di kalangan konsumen Inggris adalah Pohon Kehidupan, yang sering digambarkan dengan bunga berwarna merah tua yang menjadi ciri khas chintz India.

Proses Pembuatan Kain Chintz

Cetakan motif pada kain chintz, awalnya dikerjakan di bengkel-bengkel di sepanjang pantai barat India. Sedangkan tradisi melukis khusus dilakukan di kota-kota seperti Masulipatnam (sekarang Machilipatnam) di pantai tenggara. Pencetakan adalah metode yang lebih cepat dan memungkinkan produksi massal bahkan sebelum Inggris menguasai industri tersebut.

Produksi kain chintz India melibatkan pelapisan kain menggunakan resin guna membatasi mordan pada area kain tertentu serta mencerahkan warnanya. Resin tersebut nantinya akan dicuci sebelum dicetak atau diwarnai, teknik unik ini digunakan untuk membedakannya dari kain chintz imitasi yang diproduksi oleh pabrikan Eropa awal.

Eropa harus mengimpir tawas resin dengan harga tinggi, sehingga chintz yang dibuat di Eropa memiliki warna yang lebih kusam dan kurang jelas. Setelah dicuci, kain dicetak menggunakan balok-balok kayu yang diukir polanya. Setelah itu, balok dilapisi menggunakan pewarna dan ditekan pada kain kemudian berbeda digunakan untuk setiap warna dan garis luar.

Penggunaan kain chintz meluas hingga menjadi kain pelapis pakaian. Hingga abad ke-19, dimana para pengusaha Eropa memakai chintz yang diimpor dari India untuk membuat tirai, kain pelapis, dan gaun. Beberapa ahli meyakini bahwa kain ini mulai dibuat menjadi pakaian ketika para pembantu rumah tangga diberi tekstil rumah tangga yang sudah tua dan rusak lalu dimodifikasi menjadi gaun.

Sadar bahwa tampilan gaun chintz terlihat lebih modis, produsen mulai menjual kain yang lebih ringan dan mengkilap sebagai bahan pakaian. Sedangkan kain yang kusam dan berat dijual untuk memenuhi keperluan tekstil rumah tangga.

Memasuki abad 19, pencetakan dan kain chintz mengkilap diproduksi di Eropa dengan bantuan pewarna sintetis, mesin khusus, dan sistem produksi massal. Karena larangan impor kapas India, jumlah kapas Inggris yang lebih murah mulai melebihi jumlah tekstil cetak blok dari India. Ekspor kain India pun menjadi terbatas pada sejumlah kecil kain chintz yang dicat di pantai Coromandel. Saat ini, sebagian besar kain chintz diproduksi melalui pencetakan mekanis. 

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait