BahanKain.id
BahanKain.id

Pentingnya Memahami Teori Warna Dalam Padupadan Fashion

BahanKain
Pentingnya Memahami Teori Warna Dalam Padupadan Fashion

Diagram warna atau colour wheel adalah elemen penting dalam ranah seni dan desain, termasuk dunia fashion. Dimana setiap kombinasinya bisa mempengaruhi look dan keseluruhan penampilan seseorang. Pemahanam akan prinsip dasar teori warna pun sangat penting untuk menghasilkan sebuah OOTD yang matching.

Ada beberapa panduan untuk menggabungkan mode berdasarkan diagram warna. Seperti halnya warna analog, komplementer, triadik, tetradik, monokromatik dan warna netral.

Tiga kombinasi pertama (analog, komplementer, dan triadik) bisa kamu sandingkan bersama warna putih, abu-abu, atau hitam. Sebab warna-warna tersebut dianggap sebagai warna netral bukan warna tambahan. Sedangkan, dua warna lainnya yakni tonal dan monokromatik kurang direkomendasikan dicampur dengan warna netral.

Sekilas Tentang Colour Wheel

Color wheel atau roda warna adalah representasi visual yang menampilkan organisasi atau hubungan antar warna. Roda ini mempermudah desainer untuk menciptakan palet warna yang harmonis untuk koleksi busana mereka. Teori warna menjadi sumber inspirasi dalam memadukan item pakaian dengan baik untuk menonjolkan bentuk tubuh serta ekspresi diri.


Roda warna sudah menjadi dasar kreasi desain oleh para seniman sejak zaman dulu. Seperti halnya warna merah, kuning, dan biru dan warna sekunder oranye, hijau, dan ungu. Secara visual color wheel juga mewakili warna-warna yang disusun menurut hubungan kromatiknya. 

Berikut tingkatan dan karakteristik color wheel dalam Teori Warna yang wajib dipahami oleh para Perancanga Busana:

1.       Primary colour

Warna primer alias primary color adalah warna dasar yang tidak bisa dibuat dengan cara menggabungkan warna lain. Primary colour terdiri dari warna merah, biru, dan kuning. Digunakan sebagai landasan color wheel dan bisa menciptakan semua warna lewat mekanisme pencampuran. Sangat penting untuk dapat bekerja secara efektif dengan warna dalam berbagai upaya artistik dan desain.

2.       Secondary color

Berikutnya ada warna sekunder yang diperoleh dari pencampuran dua warna primer. Misalnya, kombinasi merah dan kuning menghasilkan oranye, campuran biru dan kuning menciptakan warna hijau, sedangkan kombinasi warna merah dan biru akan membentuk warna ungu.

3.       Tertiary color

Terakhir ada warna tersier yang merupakan hasil dari memadukan warna primer dan sekunder. Sehingga terbentuklah sekumpulan warna turunan ketiga yang disebut tertiary color.

Skema Warna Dalam Dunia Fashion

Setelah mempelajari teori warna, kamu juga akan belajar mengenai skema warna. Yaitu perancangan busana yang mengacu pada kombinasi warna dan dikurasi secara cermat. Digunakan untuk menciptakan keseluruhan tampilan yang harmonis dan menarik pada koleksi busana maupun aksesori.


Menurut teori warna, ada berbagai jenis skema warna yang kerap digunakan dalam desain warna. Beberapa contohnya yaitu:

1.       Monochromatic

Monokromatik adalah gaya padu padan menggunakan satu warna dengan berbagai gradien atau intensitas berbeda. Warna ini menciptakan kesan seragam namun tetap menarik karena menggunakan variasi dalam satu palet warna.

Contoh yang sering digunakan adalah gaya padu padan dengan berbagai nuansa warna biru, mulai dari biru muda hingga biru tua.

Warna monokromatik adalah pilihan yang aman, karena menggunakan satu warna dari atas ke bawah. Beberapa warna yang lebih mudah dipadu padankan dalam tampilan monokromatik adalah hitam, putih, atau krem.

2.       Complementary color

Complementary color merupakan dua warna yang letaknya saling berseberangan pada color wheel, namun tetap cocok dipadupadankan. Lebih dari sekedar warna dasar yang berlawanan pada color wheel, complementary color juga digunakan dalam desain busana.

Tingkat kontras warna pada skema complementary color adalah yang tertinggi sehingga penggunaannya harus dilakukan secara hati-hati. Oleh sebab itu, lebih baik gunakan satu warna sebagai fokus utama lalu jadikan warna lain sebagai aksen.

3.       Split complementary

Split-complementary menggunakan satu primary color dan dua secondary color. Ini menggunakan dua warna yang disusun secara simetris di sekelilingnya pada color wheel dan bukan complementary color.

Berbeda dengan skema warna analog atau monokromatik, semua warna split-complementary terpisah menghasilkan kontras, sehingga lebih sulit untuk diseimbangkan karena kemiripannya dengan skema warna komplementer.

4.       Tetradic Color

Tetradic color adalah skema warna yang memiliki jarak sama antar warnanya merupakan variasi unik dari skema dua warna. Tidak ada satu warna pun yang mendominasi karena keempat warna tersebut tersebar secara merata di seluruh roda warna.

Ambil empat warna (misalnya, oranye, kuning, biru, dan ungu) yang merupakan dua set pasangan yang saling melengkapi, dan pilih satu sebagai warna yang mendominasi. Desain warna yang menarik akan tercipta dari kombinasi tersebut. Perhatikan bagaimana warna hangat dan sejuk digunakan bersamaan.

5.       Analogues Hues

Satu warna dominan dipasangkan dengan dua warna yang berdekatan pada color wheel untuk menciptakan skema analogues hues. Sebagai alternatif, jika kamu ingin menggunakan skema lima warna dan bukan hanya tiga warna, kamu dapat menambahkan dua warna lagi.

Merah, oranye, dan kuning, misalnya, saling berdekatan pada Color Wheel. Warna dominan, warna pendukung, dan warna aksen digunakan saat merancang skema analogues hues. Dalam bisnis, skema warna yang sebanding tidak hanya menarik untuk dilihat, namun juga berhasil mengarahkan pelanggan ke lokasi dan tindakan.

Itu lah teori warna yang harus kamu pahami saat hendak terjun ke ranah fashion. Kamu juga bisa menggunakannya sebagai referensi saat memilih outfit harian, lho. Semoga bermanfaat ya!

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait