BahanKain.id
BahanKain.id

Mengenal Proses Finishing Sueding Dalam Pengolahan Kain

BahanKain
Mengenal Proses Finishing Sueding Dalam Pengolahan Kain

Sueding adalah sebuah proses finishing mekanis dimana kain dikikis pada salah satu atau kedua sisi agar permukaannya menjadi berserat. Biasanya diterapan sebelum proses raising untuk mengurangi gesekan antar serat penyusun kain serta memudahkan ekstraksi ujung serat. Sehingga menghasilkan kain yang memiliki handfeel lembut.

Penerapan proses sueding pada kedua sisi kain akan mengubah tampilan dan karakteristinya. Kain sueding memiliki sentuhan lembut dan halus yang mirip permukaan kulit buah persik.

Sekilas Tentang Proses Sueding

Dalam industri tekstil, mekanisme sueding juga dikenal sebagai proses “pengamplasan” atau “emerisasi”. Yaitu proses dimana lembaran kain dilewatkan pada satu atau lebih rol berputar yang dilapisi ampelas agar hasilnya mirip suede. Suede sendiri merupakan jenis kulit dengan finishing nap yang halus.


Sumber: https://www.toscanaspazzole.com/

Mesin sueding atau sander terdiri atas beberapa rol dengan lapisan kertas pasir sebagai bahan abrasif. Kain yang melewati rol ini memiliki tumpukan yang sangat rendah dan permukaan bahan dapat dibuat terasa seperti kulit suede. Handfeel akhir kain bergantung pada komposisi serat, jumlah filamen dalam benang, dan intensitas pengerjaan kain. Kain sintetis bisa mempunyai handfeel seperti kain alami jika diproses menggunakan mesin ini.

Tujuan utama dari proses emersing atau sueding yaitu untuk menciptakan nuansa suede alami pada berbagai jenis kain. Sehingga cocok diaplikasikan sebagai produksi pakaian-pakaian tertentu seperti bra, sepatu wanita serta pakaian anak-anak. Bahkan jenis kanvas sueding juga kerap digunakan dalam pembuatan pelapis, penutup meja maupun dinding.

Alur Proses Finishing Sueding

Kain greige maupun dapat diolah menggunakan proses sueding. Tapi sebelum itu kain harus dimerserisasi dan benar-benar bebas dari resin akhir atau sisa zat perekat setelah proses desizing. Mekanisme sueding dapat mengurangi ketahanan mekanik dan dinamisme kain, sehingga membuatnya lebih rentan terhadap robekan dan jahitan.

Kain dapat bekerja dengan kecepatan berbeda dalam unit suede dimana tekanan akan tetap bertahan berkat dua lengan penyeimbang yang dipasang di pintu masuk dan keluar mesin. Potongan kain harus dijahit menggunakan jenis benang tahan abrasi seperti poliester atau nilon.

Roda gigi pada mesin juga harus dibersihkan secara menyeluruh dengan hembusan udara bertekanan. Sebab keberadaan sisa tumpukan dapat menyumbat bantalan bola atau jatuh ke permukaan kain dan menimbulkan masalah pada filter mesin pencelupan.

Teknik sueding banyak digunakan pada kain tenun tebal dengan tenunan kuat seperti halnya kain kanvas atau denim. Bisa juga diterapkan pada bahan sutra atau serat mikro yang ringan dan halus serta kain berlapis dan kulit imitasi. Perlu diketahui bahwa mekanisme suede ini kurang cocok diterapkan pada kain knitting (rajut) karena akan memberi masalah terutama jenis tubular knit.  

Mesin sueding mempunyai 6 rol yang melakukan proses suede di permukaan muka kain dan 1 rol yang bekerja di bagian belakang kain.  Sistem ini memungkinkan penggunaan kain suede dengan butiran berbeda di setiap roller. Sehingga tindakan sueding dapat diatur secara otomatis selama pemrosesan kain dan bisa dilakukan pada produk rajutan.

Kain yang diolah menggunakan cara ini akan lebih tahan terhadap cairan, kerusakan, dan noda. Cocok untuk para vegan atau konsumen yang lebih menyukai produk non-hewani. 

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait