Macam Pakaian Adat Aceh dan Ciri Khasnya, Mewah nan Menawan!

Pakaian adat merupakan unsur budaya yang menjadi aspek kekayaan intelektual Nusantara. Tiap daerah punya cara tersendiri dalam mengekspresikan tradisi dan kultur mereka, termasuk Provinsi Aceh atau Nanggroe Aceh Darussalam.
Masyarakat Aceh terkenal akan rasa persatuan dan kesatuan yang kuat. Hal itu menjadi satu alasan kuat kenapa Belanda tidak bisa menjajah atau melakukan devide et impera di Serambi Mekah ini. Setidaknya ada 5 kelompok etnis yang bermukim di wilayah tersebut seperti Aceh, Gayo, Alas Aneuk Jamee, Tamiang, dan kluet. Masing-masing suku memiliki ciri khas budaya serta adat istiadat, begitu pula dalam hal berpakaian.
Karakter, prinsip, budaya, dan persatuan masyarakat Aceh sedikit banyak digambarkan dalam pakaian adat mereka. Nah, berikut ini ragam busana tradisional Aceh serta ciri khasnya.
Ulee Balang
Kata Ulee Balang berasal dari bahasa Melayu ‘hulubalang’, yaitu sebutan bagi kelompok bangsawan dalam masyarakat Aceh. Lebih tepatnya mereka adalah pemimpin sebuah kenegerian dan diberi gelar Teuku untuk laki-laki dan Cut untuk perempuan.

Sesuai namanya, Ulee Balang merupakan pakaian adat tradisional suku Aceh yang biasa digunakan oleh para raja dan keluarga kerajaan saat menghadiri upacara adat Aceh Besar. Pakaian adat suku Aceh untuk pria disebut Linto Baro, sedangkan untuk perempuan diberi nama Daro Baro.
Busana ini memiliki tata warna dan detail sulaman benang emas yang khas. Sulaman khusus pada latar hitam pada baju meukasah (jas), sarung songket pinggang pria (ija lamgupap), dan sarung songket Wanita (ija pinggang).
1. Linto Baro
Linto baro merupakan busana tradisional yang digunakan oleh pria Aceh. Satu setnya terdiri dari baju meukusah, celana sileulue, senjata tradisional, penutup kepala, serta beberapa aksesori lain. Biasanya laki-laki Aceh memakai baju ini saat acara pernikahan, Meugang, Peusijuk, Tung Dara Baro (Ngunduh Mantu), maupun peringatan hari-hari besar.
· Baju Meukeusah
Baju meukusah ialah busana atasan pria Aceh berupa jas hitam yang bentuknya mirip beskap lengan panjang. Konon busana ini sudah ada sejak jaman kerajaan Samudra Pasai dan Perlak.
Jas meukusah terbuat dari kain tenun sutra atau katun berwarna hitam. Dimana dalam tradisi masyarakat Aceh, warna hitam dipercaya sebagai lambang kebesaran. Itulah kenapa baju meukueusah dianggap sebagai kebesaran adat Aceh.
Terdapat detail sulaman benang warna emas pada bagian leher sampai dada dan ujung lengan. Motifnya bunga-bungaan, sulur daun dan tumpal.
Kerah pada baju Meukeusah hampir sama dengan potongan kerah baju Cheongsam. Hal itu merupakan hasil asimilasi budaya dari para pedangang serta pelaut China yang dulunya kerap singgah di Provinsi Aceh.
· Celana Sileuweu
Celana Sileuweu atau cekak musang merupakan setelan bawahan baju Meukeusah pada set Linto Baro. Sebagaimana atasannya, celana ini juga berwarna hitam dan berbahan dasar kain katun. Celana ini memiliki pola potongan yang lurus ke bawah dengan detail sulaman emas di ujung bawah.
· Kain Sarung
Kewibawaan sosok pria Aceh dipertegas dengan penggunaan sarung dari kain songket sutra. Sarung tersebut dililitkan di pinggang dan batas panjang sekitar 10 cm di atas lutut. Disebut juga Ija Kroeng, Ija Lamugap, dan Ija Sangket.
· Meukeutop
Pengaruh budaya Islam dalam adat Aceh tergambar jelas pada penutup kepala dalam rangkaian busana tradisional Acer. Dialah kupiah bernama Meukeutop.
Meukeutop adalah penutup kepala berbentuk lonjong memanjang ke atas dilengkapi lilitan tangkulok. Yaitu lilitan tenun sutra berhiaskan material emas atau kuningan dengan bentuk bintang.
Tersusun dari perpaduan 5 warna yaitu:
a. Merah berarti kepahlawanan
b. Kuning berarti kesultanan
c. Hijau melambangkan agama Islam
d. Hitam lambang ketegasan
e. Putih melambangkan kesucian
2. Dara Baro
Daro Baro adalah sebutan untuk satu set pakaian adat Aceh yang digunakan oleh wanita. Sebenarnya komponen busana ini tak jauh berbeda dengan Linto baro. Hanya saja desain serta perhiasan daro baro lebih mencerminkan sisi feminitas dan keindahan kaum perempuan.
Tiap set daro baro terdiri atas baju kurung, celana, sarung, penutup kepala, aneka perhiasan, dan bros.
· Baju kurung
Baju kurung pada rangkaian daro baro mempunyai kerah dan motif sulaman benang emas yang khas seperti pakaian Cina. Bentuknya mirip tunik lengan panjang dengan panjang baju hingga pinggul sehingga menutupi lekuk tubuh pemakainya.
Dari pola porongan dan motifnya, terlihat jelas bahwa dara baro adalah hasil perpaduan budaya Melayu, Arab, dan Tionghoa. Berbanding terbalik dengan baju pria yang berwarna gelap, pilihan warna pakaian adat wanita Aceh cenderung cerah seperti merah, kuning, ungu atau hijau.
· Celana cekak musang
Celana cekak musang pria dan wanita sama-sama dibuat dari kain katun. Bedanya, desain bawahan untuk baju kurung ini dibuat mengerucut ke bawah. Detail sulaman pada celana juga lebih banyak dengan variasi warna lebih cerah.
· Sarung
Wanita Aceh juga mengenakan sarung sebagai lapisan luar celana Cekak Musang. Tujuannya tak lain yaitu untuk menyembunyikan lekuk tubuh mereka. Sarung tersebut berupa kain songket yang dilingkarkan lalu dikencangkan dengan ikat pinggang perak atau emas. Kain ini dijulurkan dari pinggang hingga bawah lutut. Ikat pinggang tersebut bernama Taloe Ki leng Patah Sikureueng.
· Penutup kepala dan Perhiasan
Mengingat julukannya sebagai Serambi Mekah, pakaian adat Aceh untuk wanita sebisa mungkin menutup aurat wanita. Mereka memiliki penutup kepala dengan bentuk seperti mahkota dilapisi bunga segar yang disebut Patam Dhoe.
Bagian tengah mahkota ini diukir membentuk motif daun sulur. Sedangkan di sisi lain bergambar motif Boengong Kalimah yang dikelilingi bunga dan bulatan.
Selain Patam Dhoe, pakaian adat Aceh perempuan juga dilengkapi aneka perhiasan, seperti keureusang (bross), piring dhoe (mahkota berukir kaligrafi), kalung, untai peuniti dan subang Aceh.
Pakaian Adat Aceh Gayo
Mungkin banyak yang tidak tahu kalau ule bulalang adalah busana adat Aceh modern. Artinya, masyarakat Aceh jaman dulu lebih tepatnya suku Aceh Gayo memiliki gaya berbusana khas. Bahkan keberadaannya masih tetap eksis dan terus dilestarikan hingga saat ini.

FYI, pakaian adat Aceh Gayo juga terbagi menjadi dua macam yakni aman mayok dan ineun mayok. Berikut ulasannya:
1. Aman Mayok
Pakaian Aman Mayok digunakan oleh para laki-laki khususnya dalam pernikahan adat Aceh Gayo. Baju ini dilengkapi Bulang Pengkah yang berguna sebagai tempat menancapnya sunting.
Set perlengkapan aman mayok terdiri atas setelan baju putih, celana, ponok (sejenis keris), sarung yang dililitkan di pinggang, tanggang, genit rante, serta beberapa gelang di lengan, dan cincin.
2. Ineun Mayok
Jika laki-laki Aceh Gayo memakai aman mayok, maka perempuannya memakai pasangannya yaitu Ineun Mayok. Pakaian yang dikenakan oleh mempelai wanita ini didesain menurut kepercayaan akan agama Islam. Adapun setelah baju Ineun Mayok berisi baju, celana, sarung pawak, ikat pinggang ketawak serta ragam perhiasan.
Kepala wanita Aceh Gayo dihiasi mahkota sunting, sanggul sempol gampang, cemara, anting-anting subang gener, subang ilang, lelayang, serta ilung-ilung. Di bagian leher, bergantung kalung tanggal. Bahkan mulai dari lengan hingga jemari mereka dipenuhi perhiasan mewah seperti gelang (gelang berapit, puntu, giok, beramur, bulet), topong, serta cincin (sensim patah, sensim belam keramil, sensim belilit, sensim keselan, sensim genta, serta sensim kul).
Ditambah seutas genit rante di pinggang luar sarung dan pergelangan kaki. Terakhir ada upu ulen-ulen, selendang yang disilangkan dari bahu ke pinggang berukuran lebar sesuai unsur busana.
Itu dia macam-macam jenis pakaian adat suku Aceh modern dan Aceh Gayo yang penting untuk kamu ketahui. Semoga bermanfaat ya!
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!



