9 Langkah Praktis Menyusun Rencana Pengelolaan Limbah Industri

Pengelolaan limbah bukan setelah limbah terbentuk. Tetapi harus diupayakan sedemikian rupa sejak penanganan awal bahan baku sampai pemakaian produk. Sehingga jumlah limbah bisa ditekan semaksimal mungkin.
Disatu sisi, kegiatan industri menjadi unsur penting dalam menunjang pembangunan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Namun disisi lain, industri juga menyumbangkan berbagai dampak negatif dalam beragam lini.
Positifnya adalah peningkatan lapangan kerja, ketersediaan produk dan jasa serta menaikkan kualitas hidup. Sementara efek negatifnya berupa limbah yang menyebabkan pencemaran lingkungan serta menimbulkan kerusakan sumber daya alam dan penurunan kualitas hidup.

Limbah industri akan memberikan dampak buruk jika jumlah atau konsentrasinya melebihi baku mutu lingkungan. Baku mutu merupakan batas maksimum suatu zat atau komponen yang boleh berada di alam agar tidak menimbulkan pengaruh negatif.
Hingga saat ini, buangan industri masih jadi perkara serius karena beberapa alasan berikut:
· Minimnya pengetahuan pelaku usaha, khususnya kelompok industri kecil.
· Kurangnya kesadaran terhadap manajemen pengelolaan limbah.
· Tidak ada titik temu antara pihak yang memanfaatkan limbah dengan penghasil limbah.
Sehingga edukasi manajemen pengelolaan limbah hasil usaha sangat penting dilakukan. Pengendalian dilakukan dari hulu ke hilir karena ancaman pencemaran yang bisa berakibat fatal.
Jika tidak dikelola dengan baik limbah bisa menjadi sumber penyakit, pencemaran lingkungan, hingga kematian.
Limbah Industri dan Dampaknya
Buangan dari proses industri lebih berbahaya dibanding limbah domestik atau rumah tangga. Karena kuantitasnya memang besar dan terus-menerus dihasilkan. Jika tidak dikelola dengan baik, maka berbagai dampak pun akan mengancam.
1. Dampak limbah gas, debu dan partikel kecil
- Merusak lapisan atmosfer bumi
- Menimbulkan hujan asam
- Gangguan fungsi otak, pernapasan dan/atau iritasi mata
- Debu dapat mengganggu pernapasan dan bila beracun (contohnya timbal) dapat mengakibatkan gangguan syaraf, saluran pernapasan, dan anemia. Debu yang mengandung serat asbes dapat menimbulkan penyakit mesothelioma, debu kayu menyebabkan asma, debu silika mengakibatkan silikosis, dan debu batu bara dapat memicu penyakit pneumokoniosis.
2. Dampak limbah cair
Limbah cair yang mencemari sungai dapat mengundang beragam permasalahan kesehatan seperti anemia, gangguan sistem syaraf pusat, gangguan psikologis serta gangguan pencernaan berupa konstipasi, diare, mual, kehilangan nafsu makan, dan kolik serta iritasi kulit.
3. Dampak limbah padat
- Penurunan kualitas udara dan air
- Gas beracun (Asam Sulfida (H2S) dan Amoniak (NH3))
- Kerusakan tanah
- Menyebabkan diare, leptospirosis, dan penyakit kulit.
9 Langkah Efektif Menyusun Rencana Pengelolaan Limbah Industri
Setiap pelaku usaha harus memperhitungkan dan meminimaliair dampak negatif yang mungkin ditimbulkan dari proses produksi. Hendaknya mereka juga mengevaluasi dampak buruk sekaligus menentukan cara terbaik untuk mengelola limbah sesuai peraturan pemerintah.

Berikut langkah-langkah membuat rencana pengelolaan limbah berdasarkan U.S Environmental Protection Agency (EPA) atau Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat:
1. Membentuk tim pengelola limbah
Buatlah tim pengelola limbah yang bertanggung jawab menangani dan mengelola limbah di setiap area produksi dan keseluruhan industri. Tim ini harus mencakup beberapa pekerja yang kompeten, seperti operator pabrik, insinyur, ahli kimia/kimiawan, atau manajer produksi.
Koordinator tim bertugas mengirim laporan secara berkala pada pimpinan perusahaan terkait pengendalian limbah. Jumlah anggota harus disesuaikan dengan ukuran perusahaan.
2. Menentukan ruang lingkup penanganan
Koordinator tim harus menetapkan tujuan dan sasaran pengelolaan limbah. Tergantung pada jenis limbah, kegiatan produksi, dan teknologi pengelolaan limbah yang tersedia.
Mereka wajib mengetahui alasan dan tujuan program penilaian limbah, kebijakan perlindungan lingkungan, seperti program minimisasi limbah. Harus ada penanggung jawab atas implementasi program penilaian secara keseluruhan.
Jika ada empat area produksi dan output limbah yang berbeda, maka penilaian juga dilakukan oleh empat tim. Masing-masing tim memiliki fokus berbeda namun tetap berkoordinasi selama proses penilaian.
3. Membuat perencanaan sebelum melakukan survei/penilaian
Pada tahap pra-penilaian pada operasi pabrik dan prosesnya, gambaran umum mengenai bahan baku produksi, serta metode pengolahan dan pembuangan limbah.
Tim pengelola limbah harus:
· Membuat daftar kegiatan produksi pabrik
· Mengumpulkan informasi tiap proses produksi
· Memberikan gambaran umum tentang bahan baku produksi, limbah dan emisi yang dihasilkan di masing-masing area.
· Mencatat langkah perlindungan lingkungan. Hal ini mengacu pada UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
· Mengidentifikasi semua persyaratan peraturan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan limbah tiap kegiatan produksi
· Membuat daftar permasalahan terkait limbah atau pencemaran limbah yang diketahui
· Menetapkan prioritas kegiatan produksi yang akan dinilai
· Menjalankan ruang lingkup pengelolaan limbah.
Selanjutnya, tim pengelola dan penilaian limbah harus menentukan bagaimana penilaian limbah dilakukan dan waktu pelaksanaannya.
4. Melakukan survei/penilaian limbah (waste assessment)
Proses penilaian limbah di masing-masing area produksi mencakup jenis limbah yang dihasilkan, melakukan sampling, analisis, dan pengukuran limbah, investigasi pemanfaatan limbah, dan dampak yang ditimbulkan limbah terhadap lingkungan. Penilaian limbah harus dilaksanakan secara metodis dan sistematis. Perhatikan hal apa saja yang harus ditindaklanjuti selama penilaian limbah.
5. Lakukan evaluasi dan analisis kelayakan
Pada tahap ini, tim pengelola dan penilai mengevaluasi hasil penilaian, mengidentifikasi peluang ekonomi dan lingkungan, dan mengembangkan opsi program minimisasi limbah. Analisis kelayakan secara teknis dan ekonomi pada masing-masing opsi untuk menentukan peluang minimisasi limbah mana yang dipilih atau diadopsi.

Minimisasi
limbah merupakan langkah mengurangi volume, konsentrasi, toksisitas, dan
tingkat bahaya limbah. Bisa melalui pengurangan penggunaan sumber daya dan
energi dan/atau pemanfaatan limbah berupa penggunaan kembali (reuse), daur
ulang (recycle), dan perolehan kembali (recovery). Setelah upaya tersebut
limbah diolah dengan memperhatikan baku mutu lingkungan.
6. Membuat laporan hasil penilaian limbah
Laporan penilaian limbah harus didokumentasikan dengan baik disertai informasi yang sudah dikumpulkan. Laporan tersebut meliputi jenis-jenis limbah yang dihasilkan, bahaya atau dampaknya, dan prosedur yang akan dilakukan.
7. Membuat rencana pengelolaan limbah
Laporan penilaian dan analisis kelayakan strategi pengurangan limbah harus ditinjau oleh tim pengelola. Disinilah, rencana pengelolaan limbah dibuat dan diimplementasikan. Biaya operasional dalam upaya minimisasi limbah yang dipilih harus diidentifikasi tolok ukur kemajuan dan penghematan.
Rencana pengelolaan limbah harus ditentukan secara jelas, tindakan apa yang hendak dilakukan, kapan melakukannya, dan apa tujuan yang akan dicapai atau diharapkan. Dokumen perencanaan hendaknya mudah dibaca dan dipahami pekerja serta pihak terkait. Mengingat fungsinya sebagai titik sekaligus panduan awal menekan produksi limbah.
8. Menerapkan rencana pengelolaan limbah
Setelah rencana pengelolaan limbah mendapat persetujuan dari pimpinan perusahaan, strategi bisa disosialisasikan pada pekerja kemudian barulah mulai diterapkan. Dalam beberapa kasus, dokumen perencanaan juga harus disetujui pemerintah daerah.
9. Memantau dan meninjau ulang rencana pengelolaan limbah
Minimisasi limbah adalah proses, bukan tujuan. Tim pengelola limbah harus memantau pelaksanaan rencana, performa perbaikannya, dan meninjau ulang rencana secara berkala. Tujuannya untuk memastikan pengelolaan limbah yang kurang efektif tidak terulang kembali dan mengidentifikasi peluang baru.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!




