Mengenal Jenis Tumbuhan Untuk Pewarna Alami Dalam Industri Batik Natural Dyes (Bagian 3)

Keindahan motif kain batik akan semakin nyata dengan penambahan warna. Proses pewarnaan tersebut awalnya masih menggunakan zat warna alam dari berbagai tanaman.
Meski tergeser oleh pewarna sintetis yang lebih kaya warna, pemanfaatan zat warna alami untuk produk tekstil harus tetap dipertahankan. Proses pewarnaan yang mengandalkan bagian tumbuhan ini merupakan sebuah kekayaan budaya warisan para leluhur bangsa. Kelestarian warna alam senantiasa dijaga terutama dalam proses pembatikan dan pembuatan kain-kain tradisional Indonesia.
Nah, sebelumnya Bahankain.id sudah membocorkan 14 jenis tanaman untuk pewarna alami (Natural Dyes) dalam industri batik. Kita lanjutkan pembahasannya yuk!
15. Kayu Mahoni (Swietenia mahagoni)
Mahoni bersifat dingin, pedas dan beracun. Pohon mahoni dapat memberikan efek farmakologis berkat kandungan bahan kimia saponi dan flavonoid yang dimilikinya.

Selama ini, kayu mahoni cukup terkenal di dunia kesehatan karena khasiatnya untuk mengobati penyakit diabetes. Terlepas dari semua itu, batang pohon mahoni ternyata juga mengandung zat warna yang bisa dimanfaatkan untuk mewarnai benang tenun dan kain batik lho.
Proses ekstraksi zat warna kayu mahoni ini bisa dilakukan melalui dua cara, yaitu:
· Kulit kayu mahoni dicincang lalu diberi air dengan komposisi 3kg kulir dan 30 liter air. Campuran tersebut dimasak sampai menyisakan 23 – 25 liter. Saring air rebusan tersebut dan pewarna kayu mahoni pun siap digunakan.
Baca Juga: Mengenal Jenis Tumbuhan Untuk Pewarna Alami Dalam Industri Batik Natural Dyes (Bagian 1) |
· Cara kedua, hancurkan kulit kayu mahoni jadi bubuk kemudian masukkan ke panci dan tuangkan air sebanyak 2 liter untuk 2 kg bubuk kayu mahoni. Rebus kedua bahan sampai mendidih setelah itu disaring.
Ekstraksi kulit kayu mahoni akan menghasilkan warna merah keunguan.
16. Daun Mangga (Mangifera indica)
Punya pohon mangga di pekarangan rumah? Nah, daunnya itu bisa dijadikan pewarna alam untuk batik lho. Ekstraksi daun mangga akan menghasilkan warna hijau terang kekuningan seperti hijau pupus.

Bagian paling terkenal dari pohon mangga tentu saja buahnya. Tak banyak yang tau kalau daun mangga dapat diolah menjadi zat pewarna alam. Caranya cukup mudah:
· Siapkan air dan daun mangga yang agak tua
· Timbang daun mangga secukupnya lalu dirajang tipis. Jika ingin membuat 10 liter larutan maka gunakan 1 kg daun mangga dan 10 liter air.
· Rendam irisan daun mangga. Akan lebih baik kalau baik rajangan tersebut diblender kasar.
· Rebus hasil blenderan sampai tersisa separuh atau 3/4 bagian. Jangan lupa diaduk ya. Larutan yang awalnya berwarna hijau pekat akan berubah menjadi kuning kehijauan setelah direbus.
· Tunggu sampai larutan tersebut dingin lalu pisahkan dari ampasnya menggunakan saringan stainless.
· Larutan pun siap digunakan untuk mencelup kain. Simpanlah di wadah plastik atau stainless dan hindari menyimpannya di wadah aluminium atau besi karena bisa mempengaruhi warna.
17. Gambir
Uncaria gambir (Hunter) merupakan nama ilmiah tanaman gambir yang merupakan tanaman perdu asli Indonesia. Tanaman ini tumbuh subur di daerah Sumatera dan Kalimantan. Masyarakat jaman dulu kerap menggunakan gambir sebagai bahan tambahan untuk menyirih atau nginang.

Baca Juga: Mengenal Jenis Tumbuhan Untuk Pewarna Alami Dalam Industri Batik Natural Dyes (Bagian 2) |
Banyak pembatik juga memanfaatkannya sebagai pewarna alami. Gambir yang banyak dijual di pasaran adalah hasil ekstraksi air panas dari daun dan ranting tanaman gambir. Sekilas wujud gambir mirip biskuit berbentuk silinder dengan warna coklat kehitaman atau kekuningan.
Pengaplikasian gambir sebagai bahan pewarna tekstil menghasilkan warna coklat sogan atau coklat kemerahan.
18. Buah Jambe (Areca catechu)
Secara fisik, tanaman pinang atau jambe seperti pohon kelapa tanpa gerigi. Struktur batangnya terbilang kecil dan kurus tapi cukup tinggi (sekitar 15-29 meter). Tumbuhan yang memiliki nama ilmiah Areca catechu ini tumbuh dengan baik di seluruh wilayah Indonesia. Buah jambe dikenal sebagai bahan pewarna sekaligus obat kulit.

Biji buah pinang sudah lama dipakai masyarakat Papua sebagai pewarna alami dalam pembuatan batik. Ekstrak buah jambe atau pinang menghasilkan Zat Pewarna Alami (ZPA) coklat kemerahan dan hitam pada kain batik.
Untuk mendapatkan warna terbaik, sebaiknya pilih buah
pinang yang sudah tua.
Buah tersebut kemudian ditumbuk sampai halus dan diberi tambahan air sehingga
menjadi larutan pewarna.
19. Kulit kayu Duwet (Eugenia Cumini)
Duwet merupakan salah satu jenis flora yang berpotensi besar untuk dijadikan pewarna alami batik maupun tekstil. Berdasarkan penelitian, kulit batang pohon duwet terdapat zat tanin yaitu pigmen yang menghasilkan warna coklat.

Buah duwet berwarna keunguan memiliki rasa manis dan bersifat netral. Bahan kimia yang teradapat pada tanaman duwet antara lain minyak terbang, glukosida, asam galat, zat samak dan tanin. Dalam dunia kesehatan duwet berperan sebagai astringen atau pereda nyeri, anti-maline, anti-chlesteremik dan anti-diabetes.
20. Akar Pohon Mengkudu (Morinda critifolia)
Mengkudu atau pace tergolong jenis tanaman perdu yang berasal dari Indonesia bagain timur. Pohon tumbuh di hutan, pinggir pantai serta kebun-kebun karean di pulau Jawa. Buah pace berwarna putih kekuningan dan punya aroma sedikit menyengat. Banyak orang memanfaatkannya untuk mencuci.

Jika akarnya diekstraksi maka didapatkan zat warna alami berwarna merah untuk pencelupan bahan tekstil. Di Ambon, kulit akar pohon ini dicampur tawas atau kulit kayu secang lalu direbus. Air rebusan itu dipergunakan untuk merendam kain serta benang dan menghasilkan warna merah yang tahan luntur.
Itulah beberapa jenis tanaman penghasil zat pewarna alami yang sering dipakai para pembatik jaman dahulu. Cuma itu aja? Nggak dong, Indonesia masih punya banyak jenis flora yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber pewarna alami dalam pembuatan batik.
Nantikan artikel kami selanjutnya ya, Sobat!
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!



