BahanKain.id
BahanKain.id

Menguak Sejarah Sarung Dan 5 Jenis Sarung Tradisional Indonesia

BahanKain
Menguak Sejarah Sarung Dan 5 Jenis Sarung Tradisional Indonesia

Bahankain.id – Sarung adalah lembaran kain yang kedua ujungnya disatukan lalu dijahit sehingga bentuknya seperti pipa atau tabung. Sarung juga bisa didefinisikan sebagai lembaran kain yang pemakaiannya dengan cara dibebatkan atau dilingkarkan di pinggang untuk menutup bagian pinggang ke bawah.

Wanita Indonesia jaman dahulu memanfaatkan sarung sebagai penutup badan. Mereka melilitkan sarung di ujung lengan bagian dalam(bawah ketiak) untuk menutupi badan mulai dada hingga kaki.

Kain sarung juga kerap dimanfaatkan sebagai pakaian harian, perlengkapan beribadah, serta menyempurnakan busana pernikahan. Bahkan beberapa daerah di Indonesia menetapkan sarung tradisional dalam rangkaian busana tradisional khas mereka dengan ragam motif dan ciri khas masing-masing.


Nah, meskipun hampir semua pria memiliki sarung dan mayoritas laki-laki muslim Indonesia menggunakan sarung untuk beribadah, tapi sebenarnya sarung bukan budaya asli Indonesia lho.

Lalu darimana datangnya sarung? Yuk, simak sejarah singkat sarung berikut ini!

Sejarah Sarung di Indonesia

Konon kabarnya, sarung berasal dari salah satu negara Jazirah Arab yaitu Yaman. Sampai detik ini pun sarung masih ditetapkan sebagai pakaian tradisional dan buah tangan khas negara tersebut. Hampir semua jenis sarung di Yaman terbuat dari kain putihan yang dicelupkan larutan pewarna hitam.

Negara-negara di Jazirah Arab pun menyebut kain sarung dengan beragam istilah. Masyarakat Yaman mengenal kain sarung sebagai futah, warga Oman menjulukinya wizaar, sedangkan orang Arab Saudi menyebutnya izaar.

Di Indonesia sendiri, sarung kerap digunakan untuk ibadah umat muslim terutama kaum lelaki. Tapi bagi sebagian besar masyarakat Jazirah Arab, sarung justru pakaian harian yang super santai. Seperti halnya Mesir yang menggunakan sarung untuk menghangatkan tubuh ketika tidur. Hal ini tentu sangat berbeda dengan Indonesia yang menganggap sarung sebagai sebuah pakaian resmi.


Jika ditelusuri lebih dalam, kebaradaan kain sarung di Nusantara mulai terdeteksi sejak abad ke-14. Pada masa itu, banyak pedagang dari Arab dan Gujarat yang membawa sarung ke kawasan pesisir utara Pulau Jawa dan Madura.

Sejak saat itulah masyarakat Indonesia mulai tertarik untuk memakainya. Perkembangan sarung juga beriringan dengan penyebaran agama Islam di Nusantara sehingga keberadaannya sangat identik dengan lelaki muslim. Sehingga budaya memakai sarung kian melekat di masyarakat Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan.

Bahkan beberapa daerah di Indonesia mempunyai kain sarung dengan motif khas mereka. Berikut 5 jenis sarung:

Sarung Tradisional Indonesia

1.       Sarung sutera bugis khas Sulawesi Selatan

Sesuai dengan namanya, sarung sutera bugis ialah kain tradisional Suku Bugis yang menempati wilayah Sulawesi bagian Selatan. Sarung sutra yang hits setelah film ‘Athirah’ ini kerap dipadupadankan dengan baju Bodo yang tak lain adalah pakaian tradisional khas Bugis.

Sarung bugis punya motif khas berupa aksen geometris seperti kotak-kotak atau garis-garis yang membentuk segitiga. Awalnya, motif pada sarung sutra ini menandakan status pernikahan seseorang. Salah satu motif yang terkenal yaitu Ballo Renni yang berupa kotak-kotak berukuran kecil dan berwarna cerah. Corak sarung tersebut dipakai oleh wanita lajang (belum menikah).


Ada juga motif Balo Lobang dengan motif kotak berskala lebih besar dan berwarna merah terang atau merah keemasan. Motif ini dikhususkan untuk laki-laki lajang atau belum menikah. Namun seiring perkembangannya, sarung sutera bugis makin umum digunakan sebagai setelan baju bodo yang tidak lagi menunjukkan status kernikahan seseorang.

2.       Sarung ulos khas Sumatera Utara

Jenis sarung satu ini sudah sangat terkenal bahkan hingga ke mancanegara. Sarung ulos atau kain ulos merupakan jenis kain sarung khas suku Batak, Sumatera Utara. Motif sarung ulos juga unik dan beragam, beberapa diantaranya yaitu Ulos Mangiring, Ulos Parompa, dan Ulos Bintang Maratur.


Tiap motif kain ulos juga menyimpan makna tersendiri sehingga pemakaiannya pun harus disesuaikan dengan makna dari sarung tersebut.

Baca Juga:

Mengenal Kain Tradisional (Ulos) Khas Sumatera Utara

Seperti halnya sarung Ulos Bintang Maratur bermotif rasi bintang beraturan yang melambangkan sebuah kepatuhan. Biasanya, kain tersebut diberikan pada pasangan yang baru melahirkan anak pertama. Masyarakat Batak juga memiliki tradisi Mengulosi yaitu prosesi memakaikan sarung ulos pada pasangan pengantin saat pesta pernikahan.

3.       Sarung tenun khas Samarinda, Kalimantan timur

Sesuai dengan namanya, sarung tenun Samarinda merupakan jenis sarung khas masyarakat Samarinda, Kalimantan Timur.  Sarung Samarinda dikenal dengan nama sarung tenun ikat yang ditenun secara tradisional menggunakan sebuah alat yang disebut gedokan.

Untuk memproduksi selembar sarung tenun ikat, pengrajin membutuhkan waktu paling sedikit dua sampai tiga hari. Sarung tenun Samarinda didominasi aksen geometris seperti motif kotak-kotak berukuran kecil atau besar yang beraneka warna.

4.       Sarung tenun goyor khas Jawa Tengah

Tak mau kalah dengan Kalimantan dan Sumatera, Jawa Tengah juga mempunyai sarung khas yaitu sarung tenun goyor. Sarung yang sangat flowly dan terkesan jatuh merupakan salah satu kerajinan dari Kabupaten Pemalang. Sarung Goyor terbagi menjadi dua jenis yaitu Botolan dan Werengan. Motif sarung goyor botolan jauh lebih variatif contohnya yaitu motif bintang, kawung, melati, kuncup bunga, daun waru, bujur sangkar dan masih lain sebagainya.

Sedangkan sarung tenun goyor Werengan terdiri dari motif kuncup bunga, bunga setengah mekar, bunga mekar, bunga enam kelopak, bunga empat kelopak, daun, gabungan segitiga dan belah ketupat.

Warna yang diterapkan diantaranya yaitu merah, hijau, biru, hitam, coklat, putih dan kuning. Keunikan motif dan tingginya nilai seni pada kain sarung goyor menjadikannya begitu terkenal bahkan hingga ke negara-negara Timur Tengah.

Baca Juga:

Sarung Goyor, Sarung Tenun Ekstra Nyaman

5.       Sarung Tenun poleng khas Pulau dewata Bali

Bali memang kaya akan budaya dan adat istiadat. Salah satu yang menjadi ciri khas pulau ini adalah kain bermotif kotak-kotak berwarna hitam dan putih. Kain inilah yang disebut dengan istilah poleng atau sarung tenun poleng. Kain poleng digunakan untuk menyelimuti benda-benda yang dianggap sakral seperti patung ataupun pohon.

Masyarakat beragama Hindu yang ada di Bali juga mengganggap sarung poleng sebagai barang sakral dan berkekuatan magis. Sarung poleng mempunyai corak kotak beraturan dengan warna-warna monokrom.

Sarung poleng warna hitam dan putih termasuk jenis Rwabhineda, sarung berwarna putih, abu-abu, dan hitam berjenis Sudhamala. Sedangkan sarung yang memiliki warna putih, hitam dan merah adalah sarung poleng Tridatu.

Itulah sejarah singkat sarung dan 5 jenis sarung tradisional yang ada di Indonesia. Unik dan menarik bukan?  Indonesia memang kaya dengan ragam budaya dan adat istiadat yang harus terus dilestarikan. Kira-kira Sahabat Bahankain lebih suka jenis sarung yang mana nihh?

Nah, bicara tentang kain sarung tradisional Indonesia, Bahankain.id menjual beragam kebutuhan tekstil lho. Mulai dari benang, kain mentah (greige atau blacu), kain putihan (rfd/rfp), hingga bahan kain yang siap jahit. Langsung saja cek koleksi bahan tekstil kami ya.

Atau Sahabat bisa konsultasikan dulu dengan Customer Service kami via whatsapp. Dapatkan juga promo menarik setiap bulannya.

Kami juga hadir di Shopee dan Tokopedia nih, silahkan kunjungi online store Mekar Jaya Tekstil di aplikasi Shopee dan Tokopedia Anda. Pilih kainnya, langsung check out deh. Jangan lupa konfirmasikan pesanan Sahabat belalui chat ya.

 SHOPEE

TOKOPEDIA 

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait