BahanKain.id
BahanKain.id

11 Jenis Bahan Pewarna Sintetis Untuk Industri Tekstil Beserta Sifat Dan Penggunaannya

BahanKain
11 Jenis Bahan Pewarna Sintetis Untuk Industri Tekstil Beserta Sifat Dan Penggunaannya

Tidak bisa dipungkiri jika pertambahan populasi penduduk dan perkembangan dunia mode yang juga mengakibatkan naiknya kebutuhan akan zat pewarna tekstil. Kehadiran kain-kain dengan berbagai variasi warna yang diperjualbelikan di pasaran tentu tak lepas dari penggunaan zat pewarna buatan atau pewarna sintetis.

Pewarna Sintetis

Zat pewarna sintetis pertama kali ditemukan pada tahun 1856 oleh seorang mahasiswa berkebangsaan Inggris, William Henry Perkin. Penemuan tersebut berupa senyawa Mauvein yang diperoleh dari proses oksidasi senyawa aniline tidak murni. Senyawa ini merupakan pewarna sintetis partama dalam sejarah pewarnaan tekstil. Setelah itu, para peneliti dari berbagai negara mulai menemukan berbagai zat warna lainnya.


Sumber: https://id.aliexpress.com/

Dalam ruang lingkup pewarnaan tekstil, penggunaan jenis zat pewarna bergantung pada beberapa faktor. Mulai dari sifat dasar kain, macam warna, ketahanan luntur yang diinginkan, jenis teknik pewarnaan dan berbagai faktor-faktor lainnya. Tak tanggung-tanggung, hampir semua kain tekstil yang ada di pasaran mengandalkan jenis pewarnaan sintetis karena berbagai kelebihan yang dimilikinya.

Kelebihan Pewarna Sintetis

Berikut ini berberapa kelebihan dari pewarna sintetis:

1.       Mudah diperoleh dan komposisinya tetap

2.       Dapat diproduksi dalam jumlah besar

3.       Variasi warna yang lebih beragam

4.       Intensitas warnanya lebih cerah

5.       Proses pewarnaannya sangat mudah

6.       Mudah terserap dan terikat secara baik dengan serat kain.

Baca Juga: 

Bahaya Pewarna Tekstil Untuk Pewarna Makanan

Jenis-Jenis Bahan Pewarna Sintetis 

Hingga saat ini ada banyak sekali jenis dan merk dagang pewarna kain tekstil yang beredar di toko onlin maupun offline. Bahan pewarna sintetis untuk kain tersebut dapat dikategorikan menjadi beberapa golongan yaitu:

1.       Pewarna basa

Zat warna basa biasanya adalah jenis garam khlorida atau oksalat yang berasal dari basa-basa organik seperti basa ammonium, oksonium atau campuran antara garam dan Zinc khlorida. Zat warna ini akan menghasilkan warna-warna cerah tetapi daya tahan lunturnya kurang baik. Golongan zat warna basa mampu menembus serat-serat protein dan poliakrilat secara langsung.

2.       Pewarna asam

Zat warna asam ini merupakan garam natrium yang berasal dari asam-asam organik. Salah satu contoh zat warna asam yaitu asam sulfonate atau asam karboksilat. Jenis zat warna ini digunakan dalam proses asam dengan daya tembus langsung terhadap serat protein atau poliamida.

3.       Pewarna modern dan kompleks logam

Zat warna mordan tidak memiliki kemampuan menembus serat-serat tekstil tapi bisa menyatu dengan oksida loga yang digunakan sebagai mordan dan membentuk senyawa yang tidak larut dalam air. Zat mordan asam mempunyai daya luntur yang baik sehingga kerap diaplikasikan untuk mewarnai serat wol atau poliamida.

Dalam proses pencelupan zat warna mordan terjadi perubahan warna yang disebabkan oleh keberadaan senyawa-senyawa logam. Dari permasalahan inilah kemudian muncul perkembangan terakhir dari zat warna mordan yaitu zat warna kompleks logam. Jenis zat warn aini dibuat dengan mereaksikan khrom dan molekul-molekul warna.

Baca Juga:

Mengenal Pewarna Sintetis Untuk Batik

4.       Pewarna direct

Zat warna direct atau zat warna substantif merupakan garam natrium dari asam sulfonate yang hampir seluruhnya adalah senyawa azo. Variasi warna dari jenis zat warna ini cukup banyak, namun ketahanan terhadap luntur masih kurang baik.

5.       Pewarna bejana

Jenis zat warna satu ini tidak larut dalam air tetapi dapat diubah menjadi senyawa leuco melalui penambahan senyawa reduktor seperti natrium hidrosulfit (NaHS) dan natrium hidroksida (NaOH). Serat yang mampu menyerap senyawa leuco diolah kembali menggunakan senyawa oksidator sehingga terbentuklah pigmen warna yang tidak larut dalam air.

6.       Pewarna belerang

Sesuai dengan namanya, zat warna belerang merupakan senyawa organik kompleks yang menagandung belerang pada khromofor dan gugus sampingnya yang berguna dalam pencelupan. Zat warna ini umumnya digunakan untuk kategori serat selulosa guna mendapatkan daya tahan luntur warna terhadap pencucian dengan biayang yang cenderung rendah. Namun warna yang dihasilkan dari jenis zat warna ini biasanya terkesan suram.

7.       Pewarna disperse

Zat warna disperse ini tidak mudah larut dalam air tetapi mudah terdispersi dan tersuspensi dalam air. Umumnya zat ini dijual dalam bentuk bubuk dan digunakan untuk mewarnai jenis serat yang bersifat hidrofob (tidak suka air).

8.       Pewarna naftol

Zat pewarna naftol tidak larut dalam air dan terbentuk di dalam serat dari komponenn pembentukannya. Biasanya zat warna ini digunakan untuk memberikan warna merah pada serat selulosa dan warna-warna cerah lainnya. Sifat tahan lunturnya terhadap pencucian cukup baik tapi daya tahan gosoknya rendah.

9.       Pewarna pigmen

Zat warna pigmen hanya menempel pada permukaan tanpa mengikat komponen serat didalamnya sehingga dalam penggunaannya dibutuhkan zat resin sebagai perantara untuk mengikat zat warna pigmen dan seratnya. Karakteristik zat ini tidak larut dalam air dan tidak tembus serat tekstil. Kain yang diwarnai dengan zat warna ini akan memiliki handfeel kaku dan daya tahan gosoknya rendah.

Baca Juga:

Serba-Serbi Teknik Pewarnaan Kain Tekstil

10.   Pewarna reaktif

Zat warna reaktif ini bisa bereaksi dengan serat berbahan dasar selulosa dan protein sehingga mempunyai tahan luntur yang baik. Reaktifitasnya pun beragam sehingga dapat digunakan pada suhu tinggi maupun rendah.

11.   Pewarna oksidasi

Jenis zat warna oksidasi pada dasarnya merupakan senyawa dengan berat molekul rendah yang dicelupkan lalu dioksidasi dalam serat di kondisi asam. Proses oksidasi ini bertujuan membentuk molekul yang lebih besar dan tidak larut dalam air. 

Nah, itulah jenis-jenis bahan pewarna sintetis yang sering digunakan dalam dunia pewarnaan kain. Setiap jensi zat warna mempunyai fungsi dan sifatnya masing-masing sehingga pemilihan zat warna tergantung beberapa faktor yaitu:

1.       Jenis serat

2.       Jenis warna yang dipilih dan warna yang tersedia

3.       Ketahanan luntur warna

4.       Ketersediaan alat produksi

5.       Biaya

Baca Juga:

Inovasi Pengolahan Limbah Cair Tekstil Melalui Proses Oksidasi Dengan Gelembung Mikro Ozon (O3)

Dibalik berbagai kelebihan yang dimilikinya, penggunaan pewarna sintetis secara besar-besaran dan berkelanjutan akan menimbulkan berbagai dampak buruk bagi lingkungan. Apalagi jika limbahnya tidak diolah dengan benar, sisa dari pewarnaan tekstil yang sebagian berbentuk cairan dan mengandung senyawa-senyawa kimia tentu berbahaya bagi kelangsungan ekosistem dan kelestarian lingkungan hidup.

Oleh sebab itu, setiap pabrik tekstil terutama yang bekerja di bidang pewarnaan tekstil harus memiliki sistem penanganan khusus limbah sebelum dibuang ke alam bebas.

Nah, jika Sahabat Bahankain menjalankan usaha di bidang pewarnaan kain, Bahankain.id sebagai pusatnya bahan kain Jogja siap menjadi mitra usaha terbaik untuk Anda. Kami menyediakan jenis kain mentah atau kain blacu dan kain mori yang sudah melewati proses finishing.

Kami mempunyai unit produksi kain blacu sendiri, jadi kalau Sahabat Bahankain mau custom konstruksi atau jenis anyaman tentunya bisa banget (dengan minimal order tertentu). Ada harga ecer dan grosir, sedangkan untuk pembelian skala besar bisa di nego dulu ya.

Segera hubungi Customer Service Bahankain untuk detail produk ataupun pemesanan. Kepoin dulu produk-produk kami Disini.


KAIN BLACU COTTON

Chat dan order via Shopee dan Tokopedia juga bisa. Langsung klik link di bawah ini ya:

Shopee

Tokopedia 

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait