SEKAM PADI JADI PELAPIS MASKER KAIN

Pandemi covid-19 mengharuskan masyarakat untuk selalu menggunakan masker ketika keluar rumah dan berada di kerumunan. Masyarakat kini sudah terbiasa dengan penggunaan masker dalam kegiatan dan aktivitas mereka sehari-hari.
Banyak berbagai jenis masker yang dapat digunakan untuk meminimalisir penularan virus berbahaya tersebut. Tidak hanya masker medis saja, masyarakat juga banyak yang menggunakan masker kain. Selain bisa digunakan kembali, masker kain juga dapat mengurangi limbah masker medis yang dapat menjadi sumber penyebaran virus atau bakteri disebabkan karena cara pembuangannya yang salah.
Oleh sebab itu, masker kain sangat memberikan keuntungan jika digunakan oleh banyak masyarakat. Namun, masker kain memiliki kekurangan yaitu kurang efektif dalam menahan droplet yang sangat kecil jika dibanding dengan masker medis. Hal ini disebabkan karena permukaan masker medis sengaja diciptakan yang bersifat hidrofobik sehingga dapat menangkal tetesan air dengan maksimal.
Terkait dengan hal tersebut, beberapa mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman melakukan inovasi mengenai masker kain yang berasal dari sekam padi. Dimana sekam padi tersebut diolah menjadi nanosilika yang berguna sebagai pelapis kain.

Sumber: kampustani.com
Pada umumnya, silika berasal dari bahan kimia TEOS (Tetraethyl orthosilicate), namun penggunaan TEOS pada kain membawa dampak buruk bagi lingkungan dan harganya yang cukup mahal.
Oleh sebab itu, perlu adanya alternatif sebagai pengganti TEOS untuk menghasilkan silika. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menggali potensi sekam padi agar dapat menghasilkan silika. Sekam padi awalnya hanya limbah saja ternyata abu sekam padi mengandung silika sebanyak 87-97% dari berat keringnya.
Proses pembuatan silika dari sekam padi adalah dengan pembakaran supaya sekam padi menjadi abu sekam padi. Selanjutnya dilakukan sintetis abu sekam padi menjadi nanosilika. Tahapan ini memerlukan pengawasan yang lebih supaya abu sekam menghasilkan silika berukuran nano serta dengan menambahkan bahan-bahan seperti NaOH, HCI, aquades dan etanol. Setelah melewati proses tersebut, maka akan menjadi bubuk silika yang berwarna putih dan selanjutnya dilakukan preparasi nanosilika sehingga siap digunakan sebagai bahan pelapis kain masker.
Preparasi tersebut dilakukan untuk memodifikasi permukaan silika, dimana membutuhkan bahan kimia yaitu HDTMS (Hexadecyltrimethoxysilane) yang kemudian dapat mengubah gugus silanol menjadi alkil silanol. Tahap terakhir dilakukan pelapisan pada kain masker dimana diharapkan dapat mengubah tegangan permukaan yang rendah sehingga dapat bersifat anti-air.
Pembuatan masker kain yang akan ditambahi nanosilika membutuhkan waktu selama 4 hari serta tidak membutuhkan biaya yang terlalu mahal. Masker kain dapat dibuat dengan berbagai jenis bahan kain, dimana bahan masker yang sudah termodifikasi nanosilika siap pakai ditandai dengan tekstur kain ketika sudah mengering.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!



