BahanKain.id
BahanKain.id

Jenis-Jenis Pengujian Kain Bagian II

BahanKain
Jenis-Jenis Pengujian Kain Bagian II

Pada umumnya, pengujian kain berguna untuk menentukan sifat-sifat dari berbagai macam bahan tekstil adalah merupakan tahap penting untuk produksi, distribusi dan juga konsumsi. Tujuan dari tes ini adalah untuk dapat mengevaluasi bagaimana kinerja produk tekstil dan kepuasan customer disini sangatlah penting. Pengujian kain sangatlah penting supaya dapat mengetahui kualitas sebenarnya dari setiap kain.

Berikut adalah jenis-jenis pengujian kain beserta dengan penjelasannya:

  • Uji Barium Activity Number

Pengujian ini dilakukan dengan cara memasukkan katun yang telah dimerser kedalam larutan barium hidroksida. Banyaknya larutan yang terserap dihitung dengan cara menitrasi larutan barium hidroksida yang tertinggal dalam larutan (tidak terserap) dengan asam klorida.

  • Uji Derajat Putih (whiteness) Hasil Pemutihan (bleaching)

Pengujian dilakukan dengan cara mengukur cahaya yang dipantulkan dari white fabric menggunakan Whiteness Meter (Spectrophometer). Makin tinggi whiteness fabric makin banyak cahaya yang dipantulkan.

  • Uji Ketuaan Warna Hasil Pencelupan maupun Print

Pengujian dilakukan dengan cara menghitung E warna hasil pengukuran cahaya yang dipantulkan oleh kain berwarna pada panjang gelombang tertentu menggunakan spectrophometer dibanding dengan cahaya yang dipantulkan oleh standar kain berwarna.

  • Uji Ketajaman Desain (sharpnerss) hasil printing

Uji dilakukan dengan cara pengamatan langsung (visual terhadap ketidaktepatan batas desain (menjorok ke dalam atau keluar dari batas desain yang seharusnya)

  • Uji Langsai Kain (drape) dari hasil penyempurnaan

Pengujian ini dapat dilakukan dengan metoda yang dikembangkan oleh The Fabric Research Laboratories of USA yaitu penggabungan karakteristik lusi dan pakan untuk menghasilkan ”tekukan” apabila kain digantung dalam gantungan berbentuk lingkaran (cincin) atau dapat juga dilakukan dengan menggunakan Drape Tester.

  • Uji dengan Metoda The Fabric Research Laboratories of USA

Pengujian dapat dilakukan dengan cara mengamati drape yang terjadi apabila fabric (test specimen) berdiameter 25cm disangga oleh cakra berdiameter 12,5 cm. Nilainya dapat ditentukan sebagai perbandingan antara selisih luas proyeksi dengan luas cakram terhadap selisih luas test specimen dengan luas cakram. Makin tinggi nilai perbandingan (maksimum 1) makin baik drapenya.

  • Uji dengan Drape Tester

Pengujian dilakukan dengan cara meletakkan test specimen berdiameter 25cm pada landasan uji sehingga titik pusatnya berada pada titik tengah landasan uji. Setelah drape tester dijalankan maka nilai drape dapat dibaca pada layer. Makin besar nilai drape berarti makin jelek drapenya.

Demikian informasi mengenai jenis-jenis pengujian kain, semoga informasi tersebut dapat bermanfaat untuk anda, menambah pengetahuan dan wawasan anda dalam dunia tekstil.

Komentar0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait